Setelah drama di sana-sini Jokowi akhirnya terpilih sebagai presiden ketujuh Republik Indonesia. Dengan segala dukungan kadernya ia akhirnya berhasil menduduki puncak takhta negara ini. Ada beberapa hal menarik untuk dibahas dari presiden yang satu ini. Salah satunya adalah citra dia di hadapan rakyat. Rasanya itu merupakan salah satu kunci kesuksesannya yang membantunya meraih jabatan tertinggi negara saat ini.

Gw sebagai masyarakat awam melihat banyak persamaan Jokowi dengan PSY yang bisa disandingkan. Pertama karena gw tidak terlalu familier mengenai politik sehingga membandingkannya dengan sosok dari dunia politik akan sama sekali tidak akurat dan kedua karena merasa ada faktor X yang sama-sama melambungkan kedua tokoh ini.

Gw yakin pasti ada yang membahas 100 hari kerja Jokowi, maka sebaiknya gw serahkan bahasan serius itu untuk orang yang lebih kredibel di bidangnya. Sedangkan sekarang akan membahas analisis kunci kesuksesan Jokowi di mata awam: pencitraan.

Ada beberapa hal yang berperan dalam membangun sebuah citra. Bibit, bebet, bobot sudah cukup menjelaskan tapi ada hal selain itu yang berkontribusi besar menampilkan seorang tokoh di depan masyarakat. Berikut beberapa faktor yang memengaruhi kesuksesannya:

Nama

Ada perbedaan besar di antara dua calon itu, yang satu berakhiran ‘i’ dan satunya lagi ‘o’.  Pelafalan yang demikian menurut gw menimbulkan efek psikologis yang berbeda. Ada rasa ‘berjarak’ ketika melafalkan ‘o’. Kita sudah kenal beberapa presiden yang namanya berakhiran seperti itu; Soekarno dan Soeharto. Sehingga menimbulkan efek grande, sesuatu yang agung, seperti seorang raja yang memandang rakyat jelata di bawah singgasananya. Sebaliknya, Jokowi terdengar lebih akrab. Akhiran ‘i’ terdengar lebih renyah di telinga. Membumiii. Coba jika dia tetap memakai nama belakangnya Widodo. Mungkin tidak akan ada media asing yang menyebut ‘Jokowi effect’, adanya ‘Widodo effect’It’s obvious. 😀

Sama halnya dengan PSY, yang bernama asli Park Jae-sang. Dia memilih nama panggung PSY yang lebih mudah dilafalkan dan lagi-lagi berakhiran ‘i’ sehingga terdengar lebih gurIh di telinga. Ditambah itu kata yang dilafalkan hanya dengan satu silabel. Sudah lebih dari cukup memenuhi standar catchy, selain tarian fenomenalnya tentu saja.

Ketika lo ucapkan kata yang berakhiran ‘i’ pasti akan terbentuk guratan senyum di mulut. Menampakkan deretan gigi. Terlihat ramah. Sebaliknya, ‘o’ terlihat seperti terkejut. Rasanya lebih ceria dan imut ketika menyebut ‘chibi-chibi’ dibandingkan ‘chobo-chobo’.

…. untuk membaca artikel lengkapnya sila kunjungi remehtemeh.com

Advertisements