tragedy-comedy_01_446Menonton film drama komedi buat gw adalah rekreasi. Genre ini selalu menawarkan kisah ringan, menghibur dan cocok ditonton di hari libur sambil makan siang. Drama mengingatkan gw pada zaman kuliah dulu. Seingat gw drama terdiri dari tragedi, komedi dan satir.

Dua hal pertama tersebut digambarkan dengan topeng sedih dan tertawa dan kemudian dipentaskan dalam bentuk drama oleh pemain yang memakai topeng. Kenapa pakai topeng?

Kalau dari yang gw baca, sih, salah satunya supaya penonton yang jauh bisa melihat ekspresi mereka dengan jelas karena kalau liat muka terlalu samar ekspresinya. Ingat, dulu drama dipentaskan di teater yang gede banget dan akustiknya sudah diperhitungkan dengan cermat sehingga semua penonton bisa mendengar kata-kata yang diomongin pemainnya dengan jelas (meski belum ada mikrofon). Tapi penglihatan tentu saja tidak bisa dibohongi. Ada batas untuk itu, tidak bisa diakali dengan arsitektur yang dirancang sedemikian rupa.

Itu sedikit sejarah yang sama sekali tidak lengkap. Singkatnya, kini drama tidak lagi membutuhkan topeng karena sudah bisa dikemas dalam bentuk film yang ekspresi pemainnya bisa dijangkau oleh mata penonton. Ekspresi itulah yang membuat penonton ikut merasa sedih dan senang ketika menontonnya. Nah sekarang langsung saja, berikut lima film drama komedi terbaik menurut gw:

The Bucket List (2007)

The Bucket List movie poster onesheetFilm ini dibintangi oleh Morgan Freeman dan Jack Nicholson. Yap, terlalu banyak film bagus yang dimainkan Morgan meski ada beberapa yang menurut gw jelek – salah satunya “Transcendence” (2014) – tapi di film ini dia tampil sesuai dengan dirinya. Maksudnya sesuai umurnya. Di “Bucket List” dia berperan sebagai seorang lansia yang divonis kanker paru-paru stadium lanjut.

Ketika dirawat di rumah sakit, dia satu ruangan sama Jack Nicholson – yang juga sakit parah. Jack juga salah satu aktor favorit gw yang tampil keren di filmnya “As Good As It Gets” (1997), tentang seorang pria tua yang antisosial dan selalu membenci orang di sekelilingnya.

Dalam film ini dia juga memerankan karakteristik kampiunnya: kakek-kakek sinis. Jadi ketika karakter Morgan yang playful dikawinkan dengan karakter Jack yang selalu memandang sesuatu dari sisi negatif maka yang keluar adalah sebuah hubungan yang familier dengan keseharian kita. Pasti banyak kan orang sinis di sekitar kita?

Bucket list di sini adalah daftar hal yang ingin mereka lakukan sebelum mati (kick the bucket itu idiom dalam bahasa Inggris yang berarti meninggal, diambil dari arti harfiah ketika orang yang gantung diri menendang ember yang menjadi tumpuannya). Mereka berpetualang keliling dunia untuk mewujudkan semua hal yang ada di daftar keinginan tersebut. Dan salah satu hal yang bikin film ini selalu terkenang buat gw adalah karena Jack menyebut bahwa dia suka kopi luwak (bukan white coffee yang murah itu). Iya, gw nontonnya sampai diulang-ulang demi mendengar aksen lucunya ketika ngomong itu. Seperti orang Indonesia kebanyakan, gw selalu terharu kalau orang Barat menyebut sesuatu yang ada hubungannya dengan kita, apalagi ketika mereka memujinya. Dasar, kolonis.

Hal-hal dalam daftar itu sebenarnya cukup sederhana: ketawa sampai nangis, naik motor di Tembok Besar China (KePres sekarang mengharuskan diganti jadi Tiongkok tapi gw lebih suka pakai China), sampai mencium cewek paling cantik di dunia. Tapi yang membuat spesial adalah ketika daftar tersebut berusaha diwujudkan lewat perjalanan dua orang sahabat yang berbeda karakter dan menjadi akrab karena penyakit yang mereka derita. Ada empati tapi terkesan tidak dibuat-buat di antara mereka. Membantu mewujudkan keinginan yang ada dalam daftar itu dengan tulus. Ringan tapi juga mengingatkan kita bahkan sebelum mati kita masih punya banyak hal yang harus dilakukan. Jadi ketika masih sehat seperti sekarang jangan hanya berpangku tangan dan meninggalkan utang hal-hal yang belum sempat dilakukan.

marley-and-me-movie-posterMarley & Me (2008)

Jennifer Aniston itu bidadari, matahari sumber kehidupan, air yang diambil pertama kali di pegunungan saat fajar untuk direguk kala haus, mawar di tumpukan jerami. Bagi gw, semua tawa dan tangis dia dalam film terlihat begitu natural seperti sudah mengenalnya seumur hidup gw. Apalagi waktu dia nangis, gw selalu ingin masuk ke layar buat mengelus rambut dan memeluk untuk menenangkannya. Kalau kata John Legend even when [she’s] crying [she’s] beautiful too.

Ini film bercerita tentang sepasang suami istri baru, Owen Wilson dan Jen, yang mengadopsi anjing saat belum mau mempunyai anak. Namun anjing yang menyenangkan dan penurut seperti pada umumnya dimiliki keluarga lain ternyata tidak mereka dapatkan. Marley, nama anjing yang diambil dari Bob Marley, susah diatur. Tapi seiring berjalannya waktu Marley tidak menjadi a man’s best friend tapi a family’s best friend. Iya, anak-anak Owen dan Jen semuanya sayang dia.

Marley bahkan jadi sumber inspirasi tulisan Owen di kolom surat kabar yang diasuhnya. Semua ulah dan keterlibatan Marley dalam keluarga kecil itu diabadikan dalam artikel yang ringan dan mempunyai basis penggemar setia.

Akhirnya seperti setiap pertemuan pasti selalu ada akhir. Marley mengakhiri keakraban mereka dengan pergi di suatu malam yang dingin, setelah sebelumnya sakit. Dia pergi untuk selamanya. Kata film itu anjing kalau mau mati akan menjauh ke tempat tersembunyi agar sang pemilik tidak bersedih. Di film ini ada loyalitas, humor, kesedihan, konflik rumah tangga, dan tentu saja bidadari.

Intouchables (2011)

untouchable-reviewIntouchables berkisah tentang seorang caretaker (Omar Sy) dari seorang kaya yang lumpuh (François Cluzet). Adegan pembuka diawali dengan adegan kejar-kejaran dengan polisi. Sama sekali tidak bisa mewakili cerita film ini secara keseluruhan; ini bukan film action. Sebenarnya ceritanya sederhana; sang perawat bersikap slengekan sementara sang majikan tidak ingin dikasihani karena kekurangan fisiknya. Hubungan mereka klop.

Kemudian mereka berbagi kesenangan dalam keseharian dengan tindakan-tindakan menghibur si pengasuh. Sang pengasuh energik sementara majikan menggantungkan hidupnya pada kursi roda. Lalu sikap mereka juga berbeda, yang satu aktif memulai percakapan yang ringan sedangkan satunya lagi hanya gemar menanggapi, jika tidak bisa disebut pasif, bahasan yang dimulai oleh sang pengasuh. Penggambaran karakter di sini sangat kontras, yin dan yang, dan itu rasanya yang membuat film ini cukup kuat dan menerima berbagai nominasi penghargaan film dan memenangi beberapa di antaranya.

Si majikan sangat bergantung hingga tiba saat sang pengasuh harus pergi. Terpukul karena kepergiannya yang tiba-tiba, si majikan kemudian mulai tidak peduli pada hidupnya yang dulu teratur dan berpenampilan rapi. Setelah dihubungi oleh kerabat sang majikan, si pengasuh akhirnya kembali untuk mengucapkan selamat tinggal yang pantas: dengan memberikan pasangan yang sejak lama diidamkan majikannya agar dapat merawatnya dengan baik.

Oh iya, gw juga baru baca ternyata film ini diambil dari kisah nyata Philippe Pozzo di Borgo dan pengasuhnya yang kelahiran Prancis-Aljazair Abdel Sellou.

The Terminal (2004)

the-terminal-152286Gw udah nonton film ini beberapa kali dan gak pernah bosan sama sekali. Agak susah sih untuk jelasin kenapa ini jadi drama komedi terbaik versi gw karena keseluruhan elemennya unik dan bisa dianggap biasa aja sama sebagian orang tapi juga bisa dianggap brilian bagi sebagian lainnya, termasuk gw.

Film ini buat gw menunjukkan etos kerja yang gigih, ketulusan, kepolosan, kejujuran, keberuntungan, kerendahan hati, dan panjang akal dalam memecahkan masalah. Diceritakan di sini Tom Hanks yang berasal dari Krakozhia – sebuah negara fiktif – berkunjung ke New York. Dia tidak bisa masuk ke Amerika Serikat karena paspornya ditolak akibat negaranya dilanda perang sipil sehingga kedaulatannya tidak diakui. Sehingga dia terpaksa menunggu tanpa status yang pasti sama sekali di bandara. Tidak bisa berbahasa Inggris, karakter Tom mulai bingung menghadapi situasi. Tapi ternyata dia bisa dengan cepat beradaptasi. Memanfaatkan semua yang ada di sekitarnya untuk tetap hidup di bandara.

Adegan paling berkesan buat gw yaitu ketika dia ngumpulin trolley barang yang tidak dikembalikan ke tempatnya oleh para penumpang di bandara. Di bandara New York diceritakan bahwa setiap trolley yang dipakai dianjurkan untuk dikembalikan ke tempatnya. Nah untuk mendorong orang melakukan itu, bandara memberi reward beberapa sen bagi setiap trolley yang dikembalikan. Tom melihat peluang itu, ia mengembalikan trolley yang ditelantarkan orang ke tempatnya demi mengumpulkan uang untuk membeli makanan. Dia memilih untuk tidak hidup dari belas kasih orang lain, terlebih karena dia tidak bisa berbahasa Inggris saat itu.

Cerita itu mengingatkan gw sama berang-berang laut yang menggunakan batu di atas dadanya untuk memecah kulit kerang yang keras demi daging lembut kaya protein yang tersimpan di dalamnya. Selalu ada cara kalau kita menginginkan sesuatu. Bahkan binatang pun tidak kehabisan akal. Gambaran perjuangan hidup kental di film ini. Ditambah dengan kejujuran dan ketulusan Tom, dia berhasil ‘menaklukan’ seluruh bandara, berteman dengan hampir semua orang di dalamnya.

Tanpa bermaksud berlebihan, menurut gw berbagai pelajaran hidup bisa diambil dari film ini. Tentang bagaimana kita mengakali nasib. Tabah mengikuti jalan yang ditentukan Tuhan, yang kadang banyak kerikilnya, namun juga tidak berhenti berusaha mendapatkan yang terbaik menggunakan kemampuan kita.

The Truman Show (1998)

truman_show_ver1_xlgFilm ini bikin gw inget sama Tuhan. Tentang eksistensi manusia di dunia. Ceritanya Jim Carrey seperti kebanyakan kita, menjalani hari-hari biasa tanpa ada yang istimewa. Semua rutinitas berjalan seperti biasa, bersosialisasi, bekerja, pokoknya semua normal hingga suatu saat dia menemukan kejanggalan dalam hidupnya.

Setelah menyadari beberapa hal aneh tersebut dia menemukan bahwa dia sebenarnya adalah aktor dalam sebuah reality show besar. Dia lahir dan dibesarkan dalam studio tersebut. Semua orang menonton perjalanan hidupnya dari bayi hingga usia 30-an. Itu semua ditayangkan 24/7, real-time! Semuanya artifisial: teman, pekerjaan, kota yang ditinggalinya, laut bahkan nasibnya pun sudah diarahkan oleh sang pembuat acara. Terdengar familier? Iya memang ini seperti hidup kita sebenarnya. Di atas sana, sang kreator sudah menciptakan, menyediakan orang yang akan bergaul dengan kita, memutuskan pekerjaan apa yang akan kita lakukan, dan tentu saja, nasib kita secara keseluruhan.

Lalu apa menariknya film ini kalau ternyata hidup kita sama seperti itu? Beda. Dia bisa menggugat ‘tuhan’. Ketika Jim sudah mengetahui bahwa dia hanyalah aktor dalam sebuah acara tersebut dia berusaha untuk menghindar dari sang pencipta… acara. Dia tidak terima dijadikan aktor untuk ditonton. Dia ingin kehidupan yang bebas.

Tapi menurut gw, sih, momen ketika dia pergi dari studio itu agak blunder. Dia lolos dari pencipta acara namun kemudian harus tetap mengikuti skenario dari tokoh yang lebih besar, Sang Khalik. Seperti boneka kayu Matryoshka dari Rusia, yang jika dibuka boneka lebih besar di luarnya kita akan menemukan boneka kecil di dalamnya terus begitu sampai kita menemukan boneka terkecil. Sama saja, tidak berubah rupanya hanya berbeda skalanya.

BACA JUGA ULASAN FILM GW LAINNYA DI MUMOVI.COM.

Advertisements