Pasti kamu bertanya apa arti inkamusional itu? Tidak bisa menemukannya di kamus? Tenang, saya punya jawabannya.

Saya cuma mengada-ada. Itu lema rekaan saya. Mengadaptasi dari kata inkonstitusional, yang artinya tidak berdasarkan konstitusi atau undang-undang dasar; bertentangan dengan (melanggar) undang-undang dasar. Jadi kata yang inkamusional bisa diartikan sebagai kata yang bertentangan atau tidak sesuai dengan kamus.

Jangan protes dulu saya merusak bahasa! Siapa tahu kata ini bisa diakui nantinya, sama seperti William Shakespeare yang menciptakan kata-kata seperti countless, gloomy, laughable, lonely, fashionable yang dipakai sampai sekarang.

….

Oke, sudah cukup bermimpinya.

Cukup banyak kata yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diakui di kamus namun populer digunakan dalam keseharian kita, melebihi kata yang benar secara gramatikal. Penyebabnya? Salah satunya adalah publisitas intens dari para pesohor, baik itu tokoh politik, seniman, atau siapa pun yang menggunakan kata-kata salah tersebut di berbagai media. Akibatnya kata itu semakin populer dan diikuti oleh banyak orang.

Tidak ada salahnya, sih, menggunakan kata yang populer. Toh bahasa katanya terus berkembang mengikuti zaman, terkadang itu diukur dari popularitas penggunaannya. Sebut saja selfie, twerk, digital detox, me time yang masuk dalam kata baru di Oxford Dictionaries Online (ODO) 2013 bukan Oxford English Dictionary (OED).

mileycyrustwerkingSelfie masuk ODO karena seringnya orang memotret wajah sendiri dan diunggah ke media sosial. Twerk karena tarian erotis Miley Cyrus yang mencapai puncak ketenaran ketika dia menari di depan Robin Thicke di MTV Video Music Awards 2013 dan jadi perbincangan di seluruh dunia. Digital detox untuk mewakili keadaan ketika orang beristirahat dari menggunakan perangkat elektronik dan kembali fokus ke kehidupan nyata. Sedangkan me time, kamu yang perempuan mungkin punya andil dalam pembiasaan kata ini. Atau ada juga pria yang sering pakai kata ini? svomit_100-122 Kata ini dipakai ketika kamu menghabiskan waktu untuk memanjakan diri sendiri, terlepas dari kewajiban untuk membantu atau berhubungan dengan orang lain.

Benang merahnya? Penciptaan kata baru pada 2013 ditentukan oleh media, dalam konteks ini penyumbang terbesar adalah media sosial. Peran media begitu kuat untuk menggiring pemahaman publik terhadap kata-kata. Tapi jangan lupa kita masih punya kamus untuk dijadikan kiblat. Oleh karena itu, berikut saya rinci kata-kata inkamusional yang sering saya temui:

Contek

“Dilarang mencontek!” mungkin adalah larangan yang sudah kita dengar sejak mengenal aksara. Mencontek seharusnya menyontek. Kata dasarnya adalah sontek bukan contek jadi ketika dikenai imbuhan me-sontek maka melebur jadi menyontek. Masih ingat aturan konsonan KPTS yang melebur, kan?

Jomblo

Nah ini adalah contoh kata populer karena media sosial. Tentang pemuda-pemudi yang melulu memikirkan cinta namun tidak laku-laku. Jomblo inkamusional karena yang terdaftar di kamus adalah kata jomlo bermakna 1 gadis tua; 2 (cak) pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup. Ditambahkan ‘b’ mungkin karena lebih enak dilafalkan begitu, mblo mblo!

Nominator

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor saya sempat menonton infotainment, di sana ada Hatta Rajasa yang ditanyai pendapatnya tentang Liputan 6 Awards 2014. Dia mengatakan kira-kira begini, “Saya terharu melihat nominatornya,” merujuk pada tokoh-tokoh yang berjasa kepada masyarakat dan diberi penghargaan oleh Liputan 6. Jika bermaksud begitu seharusnya dia tidak menyebut nominator melainkan nomine. Nomine dalam KBBI berarti orang yang dicalonkan (diunggulkan). Sedangkan nominator adalah orang yang mencalonkan (mengunggulkan). Dalam hal ini nominatornya adalah Liputan 6, nominenya para tokoh itu.

Mungkin orang sering tertukar istilah tersebut karena sering terpapar kata koruptor yang berarti pelaku korupsi. Oleh karena itu disamaratakan untuk setiap kata berakhiran ‘tor’. Atau karena dia pejabat sehingga sangat meresapi kata itu?

Selebritis

Nah, ini kata yang masih membingungkan juga buat saya. Terlalu banyak versi di berbagai media dan semuanya berkukuh benar. Tapi dari KBBI III dan KBBI IV saya bisa bilang bahwa kata yang diakui adalah selebritas dan selebriti. Agaknya wajar, mengingat ini merupakan kata serapan dari kata celebrity. Selebriti dipakai karena itu homofon dengan celebrity. Sedangkan selebritas merupakan hasil dari aturan baku serapan yang sudah diterapkan pada kata-kata yang sudah ada lainnya: akhiran –ty diterjemahkan jadi -tas. Contohnya faculty jadi fakultas, university jadi universitas dan trinity jadi trinitas. Jadi, selebritis mungkin sudah tidak relevan lagi dipakai karena akhiran -tis biasanya digunakan dalam kata sifat seperti optimistis, pesimistis, oportunistis. Atau mungkin selebritis diserap dari kata majemuk celebrities. Pun kalau memang begitu tetap tidak sesuai karena bahasa Indonesia tidak memajemukan kata dengan akhiran ‘s’ laiknya bahasa Inggris. Buku yang lebih dari satu tidak bisa disebut bukus.
Sekian, selamat berbahasa dengan benar!

 

Advertisements