Menilai dari tulisan sebelumnya, sepertinya pembahasan mengenai bahasa Indonesia yang baik dan benar cukup banyak dicari di Google dan menyedot para peminat bahasa Indonesia ke blog ini. Ternyata masih ada juga yang peduli dengan bahasa :D. Oleh karena itu saya (yang biasanya pakai pronomina gw) kembali menjadi manusia formal dengan bahasa baku dan berbagi sedikit tentang ragam bahasa Indonesia. Kali ini pembahasannya masih sama, yaitu tentang bahasa Indonesia yang kadang dipakai secara keliru.

Bahasa Indonesia menurut saya sih, gampang-gampang susah. Gampang karena kita hidup di Indonesia. Ini bahasa ibu kita. Namun juga susah karena alasan yang sama. Orang jadi cenderung lebih meremehkannya dan menganggapnya terlalu mudah dibandingkan belajar bahasa asing. Menganggap bahwa tanpa perlu usaha itu sudah pasti bisa kita kuasai. Padahal tidak selamanya begitu.

Untuk menguasai bahasa, tentu saja kita harus menguasai kosakata. Tapi sial, dalam praktiknya ada beberapa kata yang salah eja atau lebih parah lagi, salah makna. Berikut saya merangkum beberapa kata yang sering tidak tepat guna dalam kalimat sehari-hari:

Jengah

Saya jengah melihat orang sering menulis jengah untuk menggambarkan rasa bosan, kemuakan yang teramat sangat.

Apa arti kalimat di atas? Saya muak dengan orang yang sering menulis kata jengah? Jengah memang sering diasosiasikan dengan kebosanan, kelelahan, rasa muak untuk menghadapi sesuatu. Atau jika disetarakan dengan bahasa Inggris, pemakaian kata jengah yang saya sering dengar biasanya kurang lebih mewakili kalimat I’ve had enough!

Mulai dari lirik lagu sampai pemberitaan media, kata jengah sering dipakai untuk pemakaian seperti itu. Tapi sebenarnya menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), jengah berarti malu; kemalu-maluan. Jadi hati-hati ketika kamu bilang, “Saya jengah sama pekerjaan ini.” Tanya sekali lagi ke diri sendiri, apa benar kamu malu sama pekerjaanmu? Jika kamu merasa lagu ini sangat mewakili kamu, maka saya tidak akan menyalahkan jika kamu bilang merasa jengah. I feel you. 😥

Amandemen

Banyak saya temukan media yang menulis amandemen untuk menjelaskan perubahan undang-undang. Memang perubahan UU yang lebih baik bisa menciptakan kondisi lebih stabil dan aman untuk negara tapi makna tersebut tidak membuat kata perubahan tersebut serta-merta menjadi amandemen. Kata dasar kata ini sepertinya sih diambil dari kata bahasa Inggris to amend yang berarti mengubah atau memperbaiki. Sedangkan kata bendanya adalah amendment sehingga kata yang tepat menurut KBBI adalah amendemen.

Menurut pemahaman saya banyak kata Indonesia yang diserap dari bahasa Inggris yang disesuaikan dengan hurufnya saja. Tapi pelafalannya sebagian besar dipertahankan sesuai aslinya. Gabungan huruf yang tidak terbaca (mubazir) dilesapkan. Dalam contoh ini amendment disingkat jadi amendmen. Lalu karena terdengar patah maka ditambahlah huruf ‘e’ di tengah, supaya terdengar lebih asyik di telinga. Maka jadilah amendemen.

Apakah ini metode yang ajek? Tidak juga sih. Ini cuma teori rekaan yang saya pakai untuk belajar kata serapan. Dan untuk beberapa kata sih sepertinya teori ini cocok.

Trivia: Di lagu Duncan Sheik ‘Good Morning’ ada kalimat Good morning, Mr. Misanthrope. I sure do hope you remember our terms. Misanthrope berarti orang yang membenci atau tidak percaya orang lain. Lalu saya tidak sengaja menemukan kata misantrop di KBBI yang artinya juga sama. Tuh kan benar teori saya. Hurufnya cuma dihilangkan sedikit biar cocok diucapkan di sini. Meski pelafalan huruf ‘a’-nya agak berbeda.

Acuh

Kau boleh acuhkan diriku dan anggap ku tak ada tapi takkan merubah perasaanku kepadamu.

Lirik di atas dipetik dari ‘Kucinta Kau Apa Adanya’ yang dengan indah disenandungkan Once Mekel. Iya ini sudah cukup banyak dibahas tapi rasanya perlu untuk terus diingatkan karena tampaknya orang belum juga kapok menggunakan kata ini dengan salah. Setelah merubah, acuh jadi kata yang sering salah pakai. Sepertinya sih, acuh memang terdengar negatif. Saya juga dulu menganggapnya begitu. Tapi ternyata acuh berarti peduli atau mengindahkan. Jadi mungkin maksud Once adalah tidak acuh, karena pacarnya tidak lagi memedulikannya.

Jerigen

Untuk anak kecil yang sering disuruh orangtua beli minyak tanah di warung, kata jerigen pasti sudah tidak asing lagi. “Itu jerigennya dibawa, isi Rp1.000 di warung Ucok,” dulu ibu saya sering menyuruh begitu. Benda yang dimaksud ibu saya adalah wadah minyak yang dapat dijinjing. Tapi ternyata kata yang sering saya dengar itu salah. Jerigen seharusnya ditulis jeriken. Lho, kok bisa? Bisa! Tidak ada yang mustahil di dunia ini, teman-teman! Jeriken itu serapan dari bahasa Inggris, jerry can, atau biasa ditulis jerrycan. Lalu kenapa bisa jadi disebut jeriken? Sepertinya teori amendemen dan misantrop di atas relevan untuk menjelaskan ini.

Caleg

Bukannya saya peduli sama politik. Bukan. Sama sekali bukan. Saya cuma jengah, eh enek, sama banyaknya kata caleg dan muka-muka dengan senyum artifisial mereka yang berseliweran di media. Coba deh tanya sama orang atau bahkan kamu sendiri, “Apa sih kepanjangan caleg?” Sebagian besar akan menjawab calon legislatif.

Iya mereka tidak sepenuhnya salah, sih. Tapi itu baru benar jika yang mereka maksud adalah satu lembaga legislatif keseluruhan. Atau biasa disebut DPR. Eh, benar kan DPR itu yang kerjanya bikin undang-undang? Tapi mereka benar kerja, kan? Tak masalah. Saya tidak terlalu peduli mereka juga.

Iya pokoknya jika menyebut caleg maka seharusnya yang disasar adalah orangnya, bukan lembaga atau dewannya. Jadi ketika sedang membicarakan caleg A atau caleg B maka dia adalah calon legislator bukan calon legislatif. Legislator dalam KBBI bermakna: pembuat undang-undang; anggota dewan legislatif. Jadi jelas kan apa bedanya? Jadi ketika ditanya siapa caleg pilihanmu, apa jawabmu? Saya sih tetap tidak ada.

Oke sampai di sini dulu. Nanti kalau niat saya pasti nulis tentang bahasa Indonesia lagi. 😎

 

 

Advertisements