Mumpung lagi hangat, gw akhirnya tergoda untuk bahas masalah Dinda yang menggerutu dimintai tempat duduk oleh seorang ibu hamil. Semua orang membahas itu di media sosial. How can I resist? Dinda langsung jadi sorotan di mana-mana, tentunya untuk alasan yang buruk. Tapi gw memiliih untuk tidak ikut hiruk pikuk di media sosial dan memilih blog ini karena relatif kondusif. Biar bisa lebih bebas. Dan lebih dalam mengelaborasi tentunya.

Menurut gw, Dinda adalah satu partikel kecil dari urbanisasi. Berjuang pergi jauh dari rumah ke kantor demi mencari nafkah. Salah satu benang dari jutaan sengkarut yang memilin Jakarta, roda ekonomi Indonesia. Dia punya beban setiap pagi. Ingin sampai ke kantor dengan cara yang seenak mungkin, tidak macet, semua orang berpapasan dengan senyum tulus tersungging di wajahnya, berdansa ceria diiringi lagu Hall & Oates seperti karakter Joseph Gordon Levitt yang girang berhasil meniduri Zooey Deschanel untuk pertama kalinya di film ‘500 Days of Summer’. Apa lacur, kehidupan di kereta jauh dari impian utopis tersebut. Gw ngerasain sendiri sebagai komuter yang menggunakan kereta setiap hari.

Jadi gw bisa sedikit memahami, jika tidak bisa dibilang menganggap wajar, reaksi Dinda. Mungkin usahanya itu sirna seketika waktu ibu-ibu hamil itu minta duduk dari dia. To a certain extent, I agree with her. Memang dibutuhkan sedikit usaha lebih untuk ibu itu jika dia ingin duduk karena jika kamu naik di stasiun kedua saja dari stasiun pemberangkatan maka dapat dipastikan sudah tidak ada kesempatan untuk duduk dan harus terpaksa sempit-sempitan berdiri. Mau tidak mau ya harus berangkat dari stasiun awal. Dalam hal ini rasanya adil jika bukan hanya si Dinda saja yang dikecam karena keluhannya yang tidak elok. Sang ibu juga turut andil dalam masalah ini, bukan?

Oke pasti ada yang berpikir gw tidak punya perasaan karena masih menyalahkan ibu hamil. Itu wajar, selalu ada pro dan kontra. Mungkin ada yang berpendapat, ‘Gimana kalau dia terpaksa berangkat jam segitu karena dia memang harus menyiapkan keperluan suami dan anaknya yang lain?’. Gw ga sepenuhnya menyalahkan si ibu. Cuma ya dia harus memosisikan diri, memperhitungkan risiko, dan mungkin santun ketika meminta tempat duduk dari orang lain. Lagi pula kita belum dengar versi cerita ibu hamil sumber dari segala kisruh ini, kan? Siapa tahu memang dia yang meminta dengan sewenang-wenang tanpa tedeng aling-aling dan tanpa mengucapkan terima kasih sehingga membuat si Dinda terpaksa harus mengeluh lewat media sosial?

Lalu masalah semua penghujat yang melontarkan pendapat beragam, contohnya seperti ‘kalo ketemu gw pites nih anak’; ‘dasar ga bermoral ga tau derita ibu hamil’, ‘mudah-mudahan dia ga bisa hamil seumur hidup’, dsb. Coba tanya lagi ke diri masing-masing memangnya ada doa jahat pengharap agar orang sengsara yang dikabulkan?

Mereka yang menghujat di dunia maya atau cyber-bullying, memangnya mereka sedang membela apa? Tentang persepsi moral pribadi mengenai masalah tersebut atau hanya pendapat komunal yang mengiyakan komentar negatif pertama tentang foto tersebut lalu ramai-ramai mengeroyok Dinda atas nama keinginan ‘tidak ingin disebut ketinggalan update fenomena terbaru di media sosial’?

Ini semua tinggal masalah selera. Ada orang yang berselera duduk santai tanpa ingin diganggu. Ada orang yang ingin ibu hamil diprioritaskan. Ada orang yang membela ibu hamil. Ada orang yang membela si anak muda. Itu semua wajar. Semua punya tempat dan peminatnya. Itulah media sosial. Sama seperti produsen sepatu. Si pengusaha (pemilik) pasti tidak selalu suka semua desain sepatu-sepatu yang dihasilkan bawahannya. Tapi ada pasar untuk itu, yang menyukai sepatu yang tidak difavoritkan sang pengusaha. Terus pengusaha mau kekeuh hanya memproduksi model sepatu yang dia suka saja? Perusahaan itu akan bangkrut. Hati kamu juga akan bangkrut jika berfokus pada hal yang kamu suka saja.

Balik lagi ke cyber-bullying, masih jelas di ingatan tentang kisah memilukan Amanda Todd. Amanda, seorang remaja Kanada, bunuh diri karena ga tahan menerima cyber-bullying membabi buta. Memang sampai sekarang, setahu gw belum ada undang-undang untuk aksi cyber-bullying ini tapi bukan berarti orang bisa bebas menghina orang lainnya di media sosial. Bukan tidak mungkin, kalau diteruskan, Dinda bisa bernasib seperti Amanda.

Kita manusia bebas. Jadi jangan terlalu cepat menghakimi orang salah orang benar. Kamu harus seteguh batu karang untuk menjadi pribadi yang baik. Tapi jangan terlalu keras mengajar orang untuk jadi baik karena itu sulit, cukup diingatkan dengan bahasa yang santun. Setiap orang punya latar belakang, tujuan, cara untuk melakukan halnya masing-masing. Seperti ilustrasi gambar di bawah ini, yang tadi pagi juga gw dapat dari Path. Edan ya Path, kayak Lotte Mart, semuanya ada.

Lihat dengan cepat deh, ini gambarnya bagus.

Dengan cepat ya, janji!

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

Image

Apa yang kamu lihat? Pantatnya bagus? Iya memang. Lalu ada caption yang setengah menjelaskan foto ini.

|

|

|

|

|

|

|

|
|

|

 

Image

Trus sekarang pandangan kamu berubah? Pantatnya emang seksi. Suami dalam teks itu berengsek? Wajar kalau istrinya diemin dia seharian? Iya kamu ga salah kalau mikir begitu kok. Trus lihat deh gambar utuhnya.

|

|

|

|

|

|

|

|

|

|

 

Image

Kebanyakan orang ga sadar ada anjing di mobil itu. Termasuk gw. Ya begitulah kalo menurut gw sih ilustrasi ini pas menggambarkan fenomena Dinda. Caption terpotong-potong itu merepresentasikan usaha yang kamu harus lakukan ketika menilai sesuatu. Kamu cuma melihat apa yang kamu ingin lihat. Dan kadang butuh bantuan caption untuk mengerti gambaran penuhnya. Sometimes you need to take a second or even third look of a thing to decide what’s wrong and right. You can’t just spit all the F*** words to a person without knowing the whole case.

Life’s a joke after all, why so serious? Jadi untuk sementara ini, mari bersantai dan menghirup udara dalam-dalam. Lupakan sudah tentang Dinda. Lagi pula si ibu kan sudah dapat tempat duduk, sudah pulang juga tuh dari kantor dengan tidak kurang suatu apa pun.

Dan lagi, bukannya media sosial tidak akan pernah kekurangan orang yang benar-benar layak untuk dicela? Farhat Abbas misalnya >;) Monggo….

Advertisements