ImageApakah lo termasuk orang yang sering belanja di Alfamart untuk sekadar beli minuman dingin di siang hari yang panas dan harga minuman itu Rp5.600, lo kasih pramuniaganya uang Rp6.000 lalu lo cuma pengen cepet-cepet meneguk habis air di dalam botol yang dipenuhi bulir-bulir tipis embun dari lemari pendingin itu karena dahaga yang membuncah sambil menunggu kembalian lalu tiba-tiba sang pramuniaga berubah jadi Zeus yang memegang batang halilintar menghantam kepala lo dengan pertanyaan “400 rupiahnya mau disumbangin kak?”

Kalo iya kita senasib…

Semua orang yang belanja di Alfamart mungkin senasib.

Pas metode amal-dari-kembalian itu diterapkan, mula-mula gw sebagai makhluk sosial terketuk pintu hatinya. Apa salahnya menyumbang demi orang yang mungkin gak lebih beruntung dari kita. Mungkin suatu saat nanti gw bisa berada di posisi orang yang membutuhkan sumbangan dari orang lain untuk bisa makan. Iya, semua orang berempati dengan program tersebut.

Sekali, dua kali, tiga puluh kali, empat ratus kali gw belanja di sana dan selalu dimintain sumbangan akhirnya kesel juga. Bukan kesel menolong sesama. Kesel dengan sifat Alfamart yang terkesan jadi pengemis dari konsumen.

Gw berhenti untuk merelakan recehan yang sebenarnya memang ga akan gw pake lagi kalo ga terpaksa. Sekarang kan harga eceran kebanyakan pake Rp500. Dan keputusan gw itu tidak serta merta berjalan tanpa hambatan. Gw pernah nolak nyumbang Rp300 dan kasirnya sampai ngulang pertanyaan “Ga mau disumbangin aja mas?” dua kali. Dua kali. Itu masih ditambah dengan tatapan ‘Dasar laki-laki pelit, manusia tanpa empati. Rp300 aja ga mau dikeluarin. Semoga disiksa Tuhan di neraka terdalam’, seolah-olah gw penjahat berdarah dingin yang ga memikirkan orang yang membutuhkan.

Selama ini gw perhatiin di display dekat kasir. Gak ada sehelai pun kertas tentang rekapitulasi (minimal bulanan) dari sumbangan yang terkumpul. Cuma ada promo-promo stamp berhadiah action figure, mug, piring dsb. Bahkan sehelai foto penyerahan plat simbolis berisi nilai sumbangan pun ga pernah ada. Sama sekali tidak ada transparansi dalam pengelolaan sumbangan tersebut.

Iseng, gw mencoba bikin riset kecil. Gw berbelanja di beberapa alfamart; satu di daerah Jakarta Pusat, dua Ciputat, satu Pamulang. Semua kasir yang gw tanya itu sumbangan buat siapa cuma bisa jawab buat kacamata anak yang membutuhkan. Gw tanya disalurin lewat lembaga apa, yayasannya di mana, udah berapa uang yang kekumpul, mereka cuma bengong. Dari situ gw semakin membulatkan tekad untuk tidak menyumbang lagi.

Bukan masalah pelit, ini soal mendidik orang-orang itu. Mereka seharusnya ga boleh mengatasnamakan pihak-pihak yang membutuhkan untuk mengenyangkan perut mereka sendiri. Dan pun jika benar itu disumbangkan, gw mau liat bukti konkret duit itu disumbangin ke tangan yang tepat.

Alfamart dan sebagainya itu yang meminta recehan memanfaatkan kelemahan orang. Pertama dengan memanfaatkan rasa iba orang. Kedua dengan nilai sumbangan yang tidak seberapa itu tadi.

Ada kecenderungan orang terlalu malas meminta kembalian yang tidak seberapa itu dan lagi apa salahnya sekalian menyumbang, kan. Kebanyakan bahkan gengsi untuk memintanya ketika dibombardir permintaan sumbangan dari kasir bermata ‘Puss in Boots’ seperti di film animasi Shrek.

Gw ga melarang lo nyumbang, tapi gw sih menganjurkan tidak karena gw merasa kebiasaan itu sudah keterlaluan. Receh dari puluhan atau ratusan konsumen yang datang setiap hari – yang bahkan pegawainya tidak tahu disalurkan ke mana – itu seperti jadi easy money untuk mereka. Korupsi. Uang yang didapat bukan dari kerja.

Gw sudah cukup geram ngikutin berita tentang korupsi para pejabat. Kenapa harus ada lagi korupsi yang memanfaatkan konsumen dengan kedok sumbangan?

Jadi, masih gengsi minta kembalian di Alfamart?

Belanja puas, harga pas(ti ditambah sumbangan)….

Advertisements