Image
Source image: http://asiafoundation.org

Jakarta tidak pernah berhenti berdenyut 24/7. Semua orang punya kesibukan masing-masing. Mulai dari pengemis, pengamen, tukang sapu, kuli, pedagang es, sopir bus, manajer, direktur, hingga presiden selalu mengais rezeki di kota ini.

Semua orang bermimpi untuk menjadi penakluk ibu kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri ini. Doni termasuk salah satunya. Doni masih ingat benar kenangan ketika menjalani tes SPMB di kawasan Setiabudi 10 tahun silam. Kala itu dia menunjuk ke sebuah gedung tinggi yang bahkan ia tidak tahu namanya, “Nih Mir, gua bakalan kerja di situ!,” kepada temannya bernama Amri tapi lebih sering dipanggil Amir karena silabelnya lebih mudah begitu, orang Jakarta malas repot-repot.

Itu mungkin hanya impian anak SMA yang terlanjur ditanami pemikiran bahwa bekerja di Jakarta, di gedung tinggi, berpakaian rapi adalah tolok ukur kesuksesan. Tapi impian itu terlalu kuat hingga secara tidak sadar Doni ‘diam-diam’ berusaha mewujudkannya meski gambaran kesuksesan di diri Doni yang lebih dewasa sudah bergeser. Doni terjebak di hutan beton. Pikirannya apalagi.

Setiap hari dia bangun pagi hanya untuk menghadapi kemacetan, orang-orang yang tidak tahu diri di jalan, kerjaan yang numpuk, semprotan bosnya yang temperamen dan sebagainya yang rasanya terlalu berat untuk dipikul manusia. Bahkan mungkin juga Atlas.

Kerasnya Jakarta dan segala daya korosifnya membuat Doni berkarat. Terkikis hatinya. Ia tidak lagi peduli. Maksud tidak peduli di sini bukan sepenuhnya cuek. Dia masih peduli dengan kenegatifan Jakarta dan segala isinya. Iya, jika kamu tinggal di kota besar dan tidak punya waktu untuk senang-senang maka kamu akan menjadi orang yang negatif. Hampir semua orang di sini negatif dan sudah terlalu terbiasa dengan pandangan negatif.

Doni mengalami sebuah penyakit neurologis yang disebut Misophonia, yang bisa membuatnya gusar jika mendengar suara tertentu. Bisa dari ibu-ibu di kantornya yang selalu berbicara keras di telepon, rekan kerja yang bernyanyi menggunakan headset tanpa mafhum suaranya seperti kucing kawin, tuts-tuts keyboard di sampingnya, orang mengecap saat makan gorengan dua ribu tiga dengan minyak belepotan di pinggir bibirnya, dan bahkan batuk temannya.

Dan tidak hanya itu, dia juga tidak tahan dengan kebodohan. Memangnya Doni pintar? Tidak terlalu. Tapi memang begitu adanya, orang yang bekerja di kota besar rasanya mengidap sindrom kejemawaan tidak realistis. Apa pun pekerjaannya, mereka selalu lebih unggul karena, ya itu tadi, merasa sudah menaklukan Jakarta. Dia benci orang yang bersin di kendaraan umum tanpa menutup mulutnya malah sibuk bermain smartphone ‘Handphone aja smart, orang yang punya IQ-nya jongkok. Dia ga tau apa bersin itu buat ngebersihin iritasi di hidung. Untuk ngeluarin itu dari hidung tubuh ngeluarin daya dorong yang bisa berkecepatan 160km/jam. Googling dong dari handphone canggih lo. Apa ga ngerti makenya karena terlalu canggih? Imbesil,’ ujarnya panjang dalam hati mengutuki orang di sebelahnya yang sedari tadi sentrap-sentrup flu.

Semuanya bisa berubah sebegitu mengesalkannya di mata Doni yang sudah masuk terlalu dalam di kehidupan Jakarta yang minim kemanusiaan dan toleransi. Masih banyak Doni-Doni lainnya di ibu kota yang memenuhi jalan berebut untuk memenuhi perutnya dan semuanya tidak pernah berhenti bekerja atau sekadar berhenti untuk saling menyapa di sini, di Jakarta. 24/7.

Advertisements