Ini tulisan lanjutan dari ulasan bagian pertama yang bisa dilihat di sini.

My Neighbors the Yamadas (1999)

YamadasMy Neighbors the Yamadas yang berjudul asli Hôhokekyo tonari no Yamada-kun buat gw memiliki tiga point of interest. Pertama, film lucu ini disutradarai oleh Isao Takahata yang sebelumnya membesut Grave of the Fireflies yang cukup menguras air mata. Kedua, film ini merupakan keluaran Studio Ghibli yang sering menelurkan film ‘gak jelas’ dan njelimet. Dan ketiga adalah teknik animasinya. Animasinya, dibandingkan film Ghibli lainnya, dibuat agak kasar dengan pewarnaan seperti cat air dipadukan pencahayaan vignette dan dalam format seperti komik.

Film ini sama sekali gak njelimet karena disuguhkan dengan cerita keluarga yang dekat dengan kita. Agak sama seperti The Simpsons, yang memotret kebodohan tapi akrab dari sebuah keluarga, film ini patut dijadikan acuan untuk mereka yang ingin belajar berkeluarga. Malah film ini lebih mengena mungkin karena latar belakang gw yang sama-sama Asia, ya?

Filmnya berkisah tentang satu keluarga inti yang terdiri dari orangtua dan dua orang anak, ditambah nenek mereka yang tinggal satu rumah. Semua karakteristik dalam keluarga ditangkap di sini. Ayah digambarkan sebagai orang yang pelit. Ibu penyabar. Anak tertua (laki-laki) sedang cinta monyet. Adik perempuan hilang di supermarket. Nenek pikun tapi pemarah. Kegemaran mereka nonton TV. Meributkan masalah sepele. Semuanya relevan di kehidupan nyata dengan kisah-kisah lucu yang mengemas film ini.

Meskipun konyol tidak berarti film ini kekurangan intisari yang dapat diambil. Film ini menceritakan arti pentingnya keluarga. Waktu si bapak kehujanan dan lupa bawa payung, dia menelepon istrinya meminta dijemput di stasiun. Tapi sang istri nolak pada awalnya namun entah bagaimana akhirnya satu keluarga menjemput ayahnya di stasiun.

Lalu ada satu kutipan yang keren tentang masalah ayah dan ibu, kira-kira begini “…Tapi bahkan pasangan yang buruk dapat bertahan jika mereka melaluinya [masa sulit] bersama. Jadi segeralah punya anak. Anak-anak adalah alasan terbaik untuk melewati badai kehidupan.”

The Iron Giant (1999)

the-iron-giantFilm ini pada awalnya agak membosankan. Ceritanya tentang seorang anak, Hogarth Hughes, yang menemukan seonggok robot besar. Pada awalnya robot ini seperti rongsokan. Tapi ternyata robot itu berasal dari planet lain dan dirakit dengan persenjataan canggih. Mulailah keakraban-keakraban kecil dibangun antara karakter si anak dan robot untuk menyajikan keintiman keduanya. Gw selalu curiga dengan film yang menyajikan detail-detail intim di awal antarkarakter pasti selalu berujung pada kematian salah satu karakter. Mungkin itu untuk memberi penonton memori sedih yang bisa diputar kembali di otak untuk mengenang tokoh yang mati. ‘Yah, kok mati sih? Padahal mereka udah mesra banget, udah cocok banget, udah hidup bersama lama banget, udah banyak punya kenangan indah…’ dan lain-lain.

Momen yang paling decisive adalah ketika sang anak membacakan komik Superman dan menceritakan tentang karakter robot jahat di komik itu. Dia mengajari sang robot untuk tidak jahat meski memberi kebebasan untuk menjadi “who he choose to be.”

Robot itu ternyata bisa mengeluarkan potensi berbahaya ketika ditodongkan senjata. Sebenarnya itu bukan salah dia karena itu adalah defense mechanism yang sudah terprogram dalam sistemnya. Akibatnya kemesraan mereka mulai terusik ketika warga, yang dipimpin oleh seorang aparat paranoid brengsek, memburu sang robot.

Sampai puncaknya ketika senjata andalan Amerika: RUDAL diluncurkan untuk menghancurkan robot itu. Tapi rudal itu tidak hanya bisa menghancurkan sang robot namun juga seluruh kota. Ketika seluruh penduduk sedang menunggu dengan putus asa sebelum kota mereka hancur, sang robot kemudian “choose who he wants to be” – to be a hero. Meski sudah dituduh jahat, dikucilkan dan disiksa warga, sambil tersenyum tulus dan menyamakan dirinya sendiri seperti Superman, dia terbang ke arah rudal tersebut supaya hanya dia saja yang hancur tanpa mengorbankan seluruh kota. 😦

Summer Wars (2009)

1366908304_238035_150x220Film berjudul asli Samâ uôzu ini bercerita tentang Jepang, kiblat teknologi canggih di dunia, yang sedang menghadapi masalah akibat salah satu teknologinya yang kacau. Dunia OZ, begitu sebutan dunia virtual tersebut, diretas oleh seseorang. Oz di sini agak mirip dunia Avatar. Seperti permainan universal bagi semua masyarakat dunia, bukan hanya Jepang. Semua orang diwakili oleh satu karakter di dunia virtual yang bisa dioperasikan dari semua gadget. Mereka bisa berbelanja, jalan-jalan, bertarung dan bahkan ada toko buku di sini. Karakternya banyak banget untuk sebuah film animasi. Ini luar biasa melelahkan kayaknya, gw aja yg nonton capek memerhatikan satu-satu karakternya.

Kehidupan di dunia virtual yang sama pentingnya dengan dunia nyata sama sekali bukan imajinasi belaka. Gw sih yakin ini bakalan terjadi entah di tahun berapa. Udah bukan rahasia umum banyak teknologi di science fiction yang jadi kenyataan. Handphone flip dari film Star Trek, kapal selam dari Twenty Thousand Leagues Under the Sea dan masih banyak lagi adalah beberapa contoh nyata dari sebuah konsep impian yang menjadi kenyataan. Jepang – dengan potensi yang dimilikinya sekarang – bukan tidak mungkin akan benar-benar mewujudkan dunia OZ.

Tokoh utamanya, Kenji Koiso diajak teman sekolahnya Natsuki untuk ke rumah neneknya pas liburan musim panas. Kenji adalah seorang geek yang jago matematika sementara Natsuki adalah cewek yang lumayan hot di sekolahnya. Jadi gak heran, dia mau diajak ke sana. Di sana, Natsuki memperkenalkan Kenji sebagai pacarnya di depan neneknya yang sudah berusia senja.

Peretasan tersebut secara tidak sengaja sebenarnya dilakukan oleh Kenji setelah dikirimi pesan dari orang gak dikenal untuk memecahkan algoritma, aljabar, eh pokoknya susunan angka lah. Ternyata angka-angka itu adalah kunci untuk membobol dunia OZ. Kenji terjebak. Lalu merasa bersalah.

Kemudian nenek Natsuki meninggal akibat alat pendeteksi jantungnya, yang pengoperasiannya bergantung pada OZ, tidak berfungsi ketika ia mengalami gagal jantung. Mereka sadar ternyata dampak peretasan OZ bisa sangat fatal. Dari situlah petualangan dimulai. Seluruh keluarga Natsuki yang kaya raya dikerahkan untuk mengembalikan tatanan dunia seperti sedia kala dengan membetulkan dunia OZ.

Di sini terlihat etos kerja yang sangat ‘Jepang’. Every one knows exactly what to do. Mungkin karena budaya mereka yang terlatih akibat sering menghadapi bencana alam seperti gempa. Semua anggota keluarga dengan keahliannya masing-masing melakukan apa yang bisa mereka lakukan demi mencapai satu tujuan: Merebut kembali OZ dari peretas. Dari sisi teknologi gw anggap film ini (mungkin) dapat memprediksi teknologi terbaru yang akan muncul nantinya. Didukung animasi yang kaya warna dan detail yang menakjubkan, film ini juga memiliki soundtrack yang worth listening.

The Girl Who Leapt Through Time (2006)

girlwholeaptthroughtimeWaktu tidak bisa dibeli. Waktu sangat berarti. Waktu tidak bisa diputar kembali… and all that clichés you may already heard. Sepenting itukah waktu?

Kalau menurut film ini sih iya.

Film ini berkisah tentang seorang anak sekolah perempuan, Makoto Konno, yang tidak sengaja menginjak sebuah ‘alat mesin waktu’. Akibatnya dia bisa kembali memutar waktu ke belakang. Menghindari semua hal yang tidak diinginkannya dan memperbaiki hal-hal yang terlanjur berantakan.

Makoto, yang tidak tahu ada batas penggunaan kemampuan alat itu, menggunakan kesempatan tersebut untuk kepentingan yang tidak terlalu penting. Sama seperti di Dragon Ball yang hanya meminta celana dalam ketika semua bola Naga terkumpul. Dia mengulangi makan makanan favoritnya dan bangun lebih pagi supaya tidak terlambat sekolah dan hal remeh lainnya.

Sampai pada suatu saat temannya, Chiaki, menyatakan cinta padanya. Makoto yang merasa canggung karena menganggap pria itu sebagai teman akhirnya memutar balik waktu. Lalu sebelum Chiaki mengungkapkan perasaannya – yang dia sudah tahu akan terjadi – Makoto mengalihkan pembicaraan dan malah menjodohkannya dengan temannya yang lain.

Chiaki kemudian tidak masuk sekolah setelah kejadian tersebut. Teman-temannya mencari keberadaannya. Ternyata Chiaki adalah anak dari masa depan yang ingin melihat lukisan di masa lalu. Namun dia datang saat lukisan tersebut sedang direstorasi. Untuk menunggu restorasi selesai, dia ‘menyamar’ bersekolah di sana. Dan ‘alat mesin waktu’ yang tidak sengaja terinjak oleh Makoto adalah milik Chiaki.

Setelah menghabiskan batas pemakaian alat tersebut, Makoto ternyata masih memiliki satu kesempatan memutar waktu. Ia langsung memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan sebelumnya; Makoto mengaku jujur pada temannya bahwa dia suka Chiaki. Makoto juga bertemu dengan Chiaki, dan mengatakan bahwa dia masih punya kesempatan memutar waktu dan menjelaskan semua yang dia ketahui.

Chiaki yang kini sadar penyamarannya terbongkar akhirnya kembali ke masa depan. Dan Makoto tidak sempat mengatakan bahwa sebenarnya dia juga suka Chiaki, tapi pasrah menerima bahwa dia mungkin bisa bertemu lagi dengannya di masa yang akan datang.

Pesannya sih jelas, jangan menyia-nyiakan waktu jika tidak ingin menyesal. Klise!

Epic (2013)

epic_xlgOke ini pamungkas, save the best for last. Kesan pertama gw denger film ini agak males. Biasanya judul yang bombastis dipilih untuk film mediocre yang berusaha mendapat pengakuan. Tapi… ternyata gw salah. Kesan pertama memang berarti namun tidak selalu benar. Film ini disutradarai oleh Chris Wedge yang juga menggarap Ice Age.

Epic sesuai judulnya, menurut gw sangat tidak berlebihan. Film ini bercerita kehidupan tumbuhan. Bayangkan tumbuhan! Film tentang binatang sudah terlalu biasa karena mereka makhluk hidup yang punya gerak dan ciri yang kasatmata. Tapi tumbuhan? Cuma putri malu dan kantong semar, sepanjang pengetahuan gw, yang mempunyai gerakan menonjol.

Si pembuat film ini menciptakan imajinasi, kalau tidak bisa disebut dekonstruksi, tentang kehidupan tumbuhan yang benar-benar hidup.

Ratu hutan, Queen Tara – yang diisi suaranya oleh diva Beyonce Knowles terdengar super syahdu setiap ngomong – berusaha meregenerasi the pod, sumber kehidupan hutan. Hal tersebut mendapat tantangan dari tokoh antagonis Mandrake – not to be confused with Mandragade – bersama pasukannya yang jahat.

Mary Katherine, heroine dalam film ini, tanpa sengaja berubah menjadi kecil dan ‘bertanggung jawab’ atas kelangsungan hidup the pod. Hubungan Mary Katherine atau M.K. tidak harmonis dengan ayahnya Profesor Bomba yaitu seorang ahli botani yang memiliki keyakinan besar ada kehidupan manusia-manusia kecil di hutan dan berusaha membuktikan dengan penelitiannya yang obsesif.

Semua detail di film ini disajikan dengan imajinasi yang belum pernah gw bayangkan sebelumnya bisa terjadi pada tumbuhan. Selama ini kita – ya udah gw doang deh – menganggap tumbuhan sekadar tumbuhan. Makhluk kelas dua, yang gak punya kemampuan apa pun selain memberi oksigen dan diambil seratnya demi buang air besar yang lancar. Sangat manusia-sentris. Ini sama sekali baru buat gw. Membayangkan tumbuhan bisa bergerak seperti itu. Sebebas itu.

Ditambah pewarnaannya yang mempunyai efek psikologis. Gw pernah baca bahwa warna merah di restoran dipilih karena bisa meningkatkan nafsu makan. Biru dipilih di kamar tidur karena bisa memberikan rasa nyaman dan membuat tidur pulas. Dan hijau, seperti yang sudah semua orang tahu, bisa memberikan kesan sejuk, damai, teduh dan sebagainya. Mungkin ini yang bikin gw betah nonton film ini berkali-kali.

Pengisi suaranya juga bikin film ini menarik untuk ditonton. Beberapa bintang besar turut menyumbangkan suaranya, seperti Christoph Waltz, Steven Tyler, Josh Hutcherson, Colin Farrell, Pitbull, Amanda Seyfried dan raja pengisi suara film animasi The Great Aziz Ansari.

Ceritanya lumayan, meski menurut banyak kritikus sih fakta filmnya kurang akurat jika dibandingkan dengan dunia nyata. Come on, I think that’s exactly the reason why it is made as an animation in the first place. Warnanya menyegarkan. Dan yang paling penting, film ini bikin gw sekarang melihat tumbuhan sebagai makhluk hidup betulan. 😀

Advertisements