girl-pick-pocket1Berapa banyak di antara kalian yang pernah mendengar kerabatnya dicopet, membaca tentang pencopetan dengan teknik supercanggih di media massa atau bahkan menjadi korban pencopetan sendiri? Copet yang beginilah, begitulah. Ya, copet dan segala macam atribusinya memang sama sekali tidak menyenangkan.

Copet tidak kenal waktu dan tempat, namun dari beberapa pendapat, saya bisa menyimpulkan bahwa copet lebih marak menjelang lebaran. Copet tahu bahwa para calon mangsanya membawa rezeki berlebih untuk belanja. Mereka kan juga mau THR. Meski itu dari uang kamu.

Oleh karena itu, mengingat ini menjelang lebaran, saya merasa perlu menulis ini. Supaya tidak jatuh korban lagi. Bukan apa-apa, tiada hal yang lebih mengesalkan – selain kehilangan harta – ketika kamu kecopetan dibandingkan dengan mendengar nasihat sok bijak orang, “Ya udah, relain aja. Mungkin belum rezeki lo,” atau “Kurang beramal kali lo.”

Nah untuk menghindari itu berikut tindakan preventif yang mungkin bisa diterapkan. Of course it’s all based on my sotoy analysis. But you best believe it.

Langkah pertama mungkin membutuhkan perubahan pola pikir dan berpikir secerdik ular:

Copet itu cuma copet

Pertama, jangan pernah berpikir copet itu lebih hebat dari kita. Kalau dia lebih hebat, dia mungkin sudah jadi presiden. Jadi tidak perlu takut sama copet. Kalau kamu melihat copet beraksi, berteriaklah. Zaman sekarang, di Jakarta khususnya, sudah tidak ada lagi yang berani sama copet. Melihat ada yang dicopet malah membiarkan. Mereka sih mengaku takut malah disangka pencopetnya. Tapi kan ada perumpamaan “Sebatang lidi gampang patah, tapi kalau disatukan bisa jadi sapu lidi.” Jadi ga perlu takut. Dengan sapu itu kamu harus membersihkan dunia dari kelaliman.

Bayangin kalau orang yang dicopet itu keluarga kamu. Masa masih mau diam? Atau kalau takut jangan teriak, kasih isyarat saja; kedipan mata, batuk (uhukkcopet), sandi morse, tanda asap atau flare yang tidak terlalu mencolok. Intinya, jangan berpangku tangan. Ingat, orang yang dicopet itu bisa saja sedang sangat membutuhkan uang untuk keluarganya yang sakit parah dan itu mungkin satu-satunya simpanan yang ia punya.

Distraksi

Copet itu sama kayak pesulap. Mengandalkan kecepatan tangan dan mengalihkan perhatian korban. Kalau di angkot dulu ada modus pijat refleksi. Kaki korban dipaksa selonjor lalu dipijat. Rekan pencopet di sebelah korban satunya lalu mengambil handphone atau dompet dari saku samping celana yang sudah lurus. Lebih mudah dibandingkan dari saku celana kaki yang ditekuk.

Lalu jika ada orang yang minta tolong buka jendela mobil juga jangan menoleh tanpa memerhatikan tas. Saat kamu menoleh, kamu lengah, tas kamu luput dari perhatian. Itu kesempatan buat dia melancarkan aksinya. Boleh menolong, tapi jangan sampai lengah. Juga jangan mau disuruh-suruh. Apalagi disuruh bayar ongkos dia.

Copet: Cowok Mepet

Modus yang paling sering dipakai sekarang adalah mendesak orang. Jadi begini, si kawanan pencopet akan mendesak orang yang mau turun. Dalam beberapa kasus ada yang bagian tubuhnya dipegang, mau tidak mau si korban menepis dan melepaskan pengamanan pada tasnya, itu saat mereka beraksi.

Untuk orang normal, logikanya kalau ada orang yang mau turun, SESEMPIT APA PUN, pasti dia akan berusaha memberi jalan. Jika ada orang yang tidak mau memberi kamu jalan untuk turun tapi malah mempersempit ruang gerak, kamu patut curiga. Dia bisa saja copet… atau mungkin cuma dungu.

STRATEGI

Berbekal pemikiran di atas, kita masuk ke tahap pamungkas. Tindakan nyata, bukan sebatas pemikiran.

Tip ala film

Kita bahasnya ala film ‘Sherlock Holmes’ sama ‘Premium Rush’, ya. Bikin skenario sendiri di otak dengan memperhitungkan kausalitas gerakan tubuh dimulai ketika kamu mau berangkat ke suatu tempat. Biar dramatis.

‘Premium Rush’ atau ‘Sherlock Holmes’ walaupun cerita kedua film itu standar tapi layak untuk dikenang. Bagian ketika sang jagoan mereka-reka gerakan dan implikasi dari gerakan tersebut ketika sedang beraksi patut diacungi jempol. Berikut adalah beberapa skenario yang terpikir oleh saya:

1. Berdoa

Ini lebih dari sekadar gerakan. Penting untuk berdoa sebelum pergi. Keselamatan kamu berada di tangan Tuhan. Kalau doa bisa menggerakkan gunung, pasti bisa juga menggerakkan hati pencopet untuk mengurungkan niatnya.

2. Gerakan saat berjalan

???????????????????????????????????????????????????????Untuk cara berjalan pun perlu diperhitungkan sedemikian rupa. Manusia dianugerahi dua mata di depan. Selain itu kamu cuma punya ?????????????????????????????????????????????????????????????????mata kaki dan mata hati – jika kamu beruntung – tapi tidak ada yang memiliki mata di belakang kepala sehingga kamu tidak bisa memantau keadaan di belakang kamu.

Ketika sedang berjalan membawa tas di trotoar, kamu juga berisiko jadi korban pencopet yang menggunakan sepeda motor. Untuk menghindari hal tersebut, taruh tas di sisi dalam tubuh kamu. Maksudnya, jika kamu berjalan di trotoar sebelah kanan, maka bawa tas kamu di tangan kanan. Dengan begitu tas kamu tidak langsung terekspos pada kendaraan bermotor yang berjalan di sebelah kamu. Hal ini untuk menghindari agar tas kamu tidak mudah ‘disamber’ copet dari belakang.

Tindakan sekecil ini mampu menghindari atau setidaknya meminimalisasi risiko kamu jadi korban pencopet bermotor karena pencopet akan sedikit bersusah payah jika harus meraih tas yang berada di sisi dalam tubuh kamu. Selain itu perhatikan cara kamu berjalan. Sidewalk is not a catwalk.  Buka kaki kamu agak lebar untuk memperkokoh kuda-kuda jadi ketika sewaktu-waktu kamu ditarik, postur tubuh tidak mudah goyah dan bisa menahan hentakan gaya tarik copet tersebut.

3. Kekuatan musik

earbudsKamu bukan Sailormoon, jadi kamu tidak bisa menghukum pencopet dengan kekuatan bulan. Namun kamu bisa menghindari pencopet dengan musik.

Coba perhatikan hal yang kamu miliki yang menurut kamu paling berharga dan kamu bawa setiap hari. Harga diri tidak masuk hitungan karena saya tahu kamu tidak punya. 😀 Selain dompet, mungkin yang paling berharga adalah handphone. Nah untuk menjaga barang tersebut kamu cukup mengandalkan musik. Caranya?

Cukup pakai earbud atau headset. Setel musik jika kamu sedang berada di tempat yang agak rawan. Jika handphone kamu diambil, maka otomatis lagu yang sedang kamu mainkan akan berhenti, dengan begitu kamu akan SEGERA sadar bahwa kamu dicopet. Lain halnya jika kamu tidak memasang lagu, copet dengan kelihaiannya akan dengan mudah mengambil handphone dari saku atau tas tanpa kamu sadari. Jika kamu mengantongi handphone di saku kiri, kamu tidak perlu lagi memegangi saku kiri karena sudah ‘dijaga’ oleh earbud. Nah dengan tangan yang bebas itu, kamu bisa menjaga saku kamu yang berisi dompet, misalnya. Jadi tidak perlu memegangi kedua saku jika sedang turun angkot.

Perlu diingat juga untuk memilih lagu yang tidak terlalu banyak ‘diam’ tanpa instrumen atau lirik. Pun jangan memilih lagu dengan fade-in dan fade-out yang lama karena waktu diam tersebut dapat membuat kamu tidak sadar apakah lagu sedang berhenti atau handphone kamu sudah di tangan pencopet.

Selain membantu menghindarkan kamu jadi korban pencopetan, menurut penelitian, musik mengurangi kegelisahan, meningkatkan kreativitas, serta membantu tubuh dan pikiran ketika menghadapi tekanan.

4. “Muka judesnya mana?”CynicalWoman-192x300

Sebagai anak kecil, kamu pasti pernah digoda orangtua kamu dengan kalimat “Muka judesnya mana?” ketika mulai bisa berekspresi. Hal ini berguna juga dalam menghindari pencopetan. Jangan terlihat lemah di depan umum karena akan menjadi sasaran empuk. Pasang muka keras ketika berada di luar. Pencopet akan segan jika kamu terlihat tangguh. Jangan lupa untuk kembali memasang senyum jika kamu sudah sampai ke kantor, sekolah atau tempat mana pun yang kamu tuju. Demi kelestarian kehidupan sosial kamu.

5. Berhenti di lampu merah

41_13_69---Red-Traffic-Signal_webBukan, maksud saya bukan lampu lalu-lintas. Ini lampu merah dalam artian harfiah. Itu loh ketika kendaraan harus berhenti untuk membiarkan kendaraan dari simpang lain untuk melintas.

Pencopet beraksi di saat kamu lengah. Titik terlengah kamu bukan hanya ketika kamu bersikap apatis terhadap lingkungan sekitar tapi juga ketika kamu sedang turun dari angkutan umum. Secara otomatis kamu mencari pegangan ketika turun. Barang-barang kamu tidak terjaga. Kamu lengah. Pencopet sumringah. Plus dunia terus berputar cepat tanpa mau sedikit pun menunggu kamu, bro. Angkutan umum, utamanya bus, hanya memberi waktu sekitar 15 detik untuk kamu turun. Waktu tersebut sudah cukup untuk copet mengambil barang-barang kamu. Oleh karena itu, kamu juga harus memperhitungkan waktu yang tepat untuk kamu turun.

Waktu yang tepat menurut pengalaman saya adalah ketika angkot sedang berhenti karena lampu merah. Dengan begitu kamu tidak terburu-buru untuk turun. Masih memiliki kesempatan untuk mengawasi keadaan dengan hati-hati. Dan pun, ketika kamu terasa dicopet, kamu bisa memiliki sedikit waktu untuk menghajar sang pencopet (jika berani) atau meneriakinya supaya dibantu orang. Tidak masalah jika tempat yang kamu tuju berjarak lebih jauh dari persimpangan tempat lampu lalu-lintas tersebut berada. Barang kamu lebih aman jika kamu mau berkorban ‘sedikit’ jalan. Tapi jika dipikir lagi kamu tidak sepenuhnya berkorban. Udara yang segar di pagi hari dan sinar mentari sangat indah dinikmati dengan berjalan kaki. Dengan berjalan kaki kamu juga bisa mendapatkan keuntungan jantung yang lebih sehat karena itu termasuk latihan kardio.

Jadi kenapa harus buru-buru ketika turun angkot dan jadi korban pencopetan?

6. Kamu bukan presiden U.S.A!

2019892033Sering kali kita jadi korban pencopetan karena kecerobohan kita sendiri atau lebih tepatnya kebiasaan kita. Dalam hal ini sepanjang pengamatan saya, perempuan yang paling sering melakukan kesalahan ini. Perempuan tampaknya tidak bisa menunggu agak sedikit lama untuk sekadar membalas BBM, telepon atau bahkan MAIN GAME di tempat yang aman.

Pernah saya di belakang perempuan yang berjalan lambat di tengah antrean yang panjang dan semua orang di belakangnya berjalan terburu-buru. Penasaran kenapa dia berjalan sangat lambat, saya menyusul ke belakangnya. Kemudian mendapatinya sedang main ANGRY BIRD!!!

Jadi begini masalahnya, wahai perempuan. Pencopet kebanyakan laki-laki. Kamu – tidak peduli seberapa hebatnya kemampuan multitasking, kemahiran dalam menguasai ilmu bela diri, dan seberapa kaya kamu – tetaplah seorang perempuan di mata pencopet. Makhluk yang dianggap (maaf) lemah dari dirinya. Jangankan perempuan, laki-laki saja tidak luput jadi korban pencopetan.

Oleh karena itu letakkan sejenak handphone mahal kamu itu, tunggu situasinya agak memungkinkan, jangan terlalu terbuka dan percaya diri di tempat umum. Lagipula urhensinya apa kamu harus memegang handphone setiap saat? Kamu kan bukan presiden Ameriki yang bakal dimintai izin oleh brigadir untuk menembakkan rudal ke asteroid yang akan menabrak Bumi demi menyelamatkan umat manusia.

Jadi sekian, semoga tip di atas bermanfaat untuk menghindarkan kamu jadi korban pencopetan di peak season ini. Dan mengutip kata Tupac:

tumblr_m0js9uXFy01r39egpo1_500

Advertisements