Sudah lama tidak menulis konten yang (mungkin) informatif di blog ini. Sekarang saya akan membahas tentang kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Langsung ke dalam pokok permasalahan tulisan ini. Belakangan saya baru menyadari bahwa kita, bahkan setingkat sarjana, masih berantakan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Berkaca pada hasil skripsi sendiri membuat saya bertanya-tanya, ‘Bagaimana mungkin saya lulus dengan tata bahasa seperti itu?’ Oleh karena itu, saya ingin berbagi tentang beberapa kesalahan berbahasa Indonesia yang sejauh ini sudah saya sadari.

Untuk mengecek ejaan bahasa Indonesia, kamu dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dalam bentuk buku fisik, dalam jaringan, atau mengunduh aplikasi di Google Play untuk pengguna ponsel berbasis Android.

Baiklah mari kita bahas kesalahan yang sering saya temukan dalam penulisan.

Versi salah:

“Cuma sekedar mengkonfirmasi dari analisa yang sering saya lakukan di berbagai situs berita, bahwa berita dengan judul yang bombastis biasanya tidak di tulis dengan kaidah tata bahasa yang benar.”

Versi benar:

“Sekadar* mengonfirmasi* dari analisis* yang sering saya lakukan di berbagai situs berita, bahwa berita dengan judul yang bombastis biasanya tidak ditulis* dengan kaidah tata bahasa yang benar

*’Cuma sekedar’ ini yang paling sering saya temukan. Seharusnya ditulis sekadar. Terdapat dua kesalahan dalam rangkaian kata tersebut. Pertama sekadar memiliki kata dasar kadar. Sekadar berarti: 2 hanya untuk: ~ memperoleh ketepatan ejaan. Kita sering salah karena yang biasa terdengar di telinga itu sekedar. Namun karena belum tentu semua yang kita dengar itu benar, lebih baik cari rujukan, yaitu KBBI. Kesalahan kedua, mengingat sekadar bermakna hanya untuk, maka kamu tidak perlu lagi memakai kata cuma, yang bermakna sama dengan hanya. Itu pemborosan.

image
Tanpa dibuat larangan ini, juga tidak akan ada yang MENGkONSUMSI makanan.

*Mengonfirmasi memang harus melebur, bruder. Aturannya, kata dasar yang diawali K-P-T-S dan diikuti huruf vokal, jika dikenai imbuhan akan melebur. Mengonfirmasi kata dasarnya konfirmasi. K-o (huruf vokal) -nfirmasi.

Contoh: kombinasi=mengombinasikan, perlu=memerlukan, tindak=menindak, siap=menyiapkan.

Sementara yang tidak perlu melebur adalah K-P-T-S diikuti huruf konsonan. Contoh: kritik=mengkritik, protes=memprotes,  transformasi=mentransformasikan, stempel=menstempel.

Namun ada pengecualian untuk beberapa kata yang tidak boleh melebur, salah satu contohnya kaji. Harus tetap mengkaji karena jika tetap nekad (eh nekat) akan menghasilkan kata mengaji yang berbeda arti. Mengkaji itu artinya belajar, sementara mengaji itu artinya… Ah sudahlah saya tidak perlu mengajari ini, tanya saja pada calon presiden bergitar itu.

*Analisis sering tertukar dengan analisa, lagi-lagi karena yang lebih sering terdengar kata – sialnya – yang salah.

*di tulis seharusnya ditulis ditulis. Ini kesalahan yang paling sering terjadi. Sebenarnya untuk menyadari kesalahan ini cukup mudah. Ditulis disambung karena menunjukkan kata kerja dalam bentuk pasif. Setiap kata yang dikenai kata kerja dan diawali di pasti harus disambung contoh: dicium, diraba, disetubuhi. (Lebih mudah dipahami, kan kalau contohnya begitu?) 😀

Sementara pemakaian di yang dipisah hanya untuk menunjukkan letak: di pohon, di antara, di hatimu, di sana, di sini, di mana-mana. Semua contoh tersebut menunjukkan tempat dan sama sekali tidak ada kata kerja sehingga tidak perlu disambung.

Selain kata-kata tersebut, terdapat beberapa kata yang sering salah dalam penulisannya. Berikut penulisan kata salah yang sering saya temukan:

  • Lembab seharusnya  lembap. Jangan anggap remeh. Ini fatal, sama fatalnya jika kamu salah menggunakan huruf ‘p’ jadi ‘b’ dalam kata papi.
  • Supir bis seharusnya sopir bus, sob.
  • Merubah seharusnya jadi mengubah, kecuali kamu sering berubah jadi siluman rubah di suatu malam di bulan purnama.
  • Karir seharusnya karier. Kalau kamu tidak bisa membedakannya, buang jauh-jauh ambisi editor dari cita-cita kariermu.
  • Menunjukan seharusnya menunjukkan. Penulis sering salah karena tidak tahu kata dasarnya adalah tunjuk dan imbuhan gabungan yang dipakai me-kan, tidak ada me-an. Imbuhan gabungan antara lain: ber-kan, ber-an, per-kan, per-I, me-kan, me-I, memper-, memper-kan, memper-I, di-kan, di-I, diper-, diper-kan, diper-I, ter-kan, ter-I, ke-an, se-nya, pe-an, per-an.
  • Pemukiman seharusnya permukiman, jika yang dimaksud adalah kompleks perumahan. Pemukiman itu proses memukimkan.
  • Hutang seharusnya utang. Tidak heran kamu berutang, menggunakan huruf saja boros, apalagi uang. 😀
  • Detil seharusnya detail jika kamu sangat menghargai hal-hal yang kecil – bahkan signifikansi satu huruf – dalam hidupmu.
  • Nafas seharusnya napas, meskipun kamu sering menyanyikan lagu ‘Seluruh Nafas’ dari Last Child. Saya cuma bisa menarik napas mendengarnya.
  • Praktek seharusnya praktik. Berasal dari kata serapan Inggris practice. Ingat praktikum zaman SMA dulu kan? Bukan praktekum? Huruf pembentuk ‘i’ dan ‘e’ dalam suatu kata adalah yang paling sering tertukar. Apotik sebenarnya apotek. Kaedah seharusnya kaidah. Ekstrim seharusnya ekstrem. Atlit seharusnya atlet. Antri seharusnya antre.

    image
    Perhatikan dua kata di kiri bawah: tunjukan identititas. Kesalahan dobel.
    Maklumi saja, protes saja dalam hati, jangan terlalu cerewet, nanti dibilang terlalu kritis lalu dijauhi teman-teman.
  • Aktifitas seharusnya aktivitas. Diserap dari bahasa Inggris activity. Aktif yang diakhiri ‘f’ adalah untuk menjelaskan kata sifat yang giat dalam bekerja atau berusaha. Oleh karena itu lebih aktif lagi yuk membaca KBBI supaya tahu cara penulisan aktivitas.

Mengingat peran bahasa dalam peradaban manusia, sudah sepatutnya masing-masing dari kita bertanya, ‘Sudahkah kita berbahasa dengan baik?’ baik dalam media apa pun. Jika jawabannya belum, jangan terburu-buru cari alasan ‘Ah, itu kan cuma bahasa lisan, yang penting orang lain ngerti maksud kita,’ ‘Itu kan cuma di Twitter, ngapain baku-baku.’ Jangan lakukan itu!

Ingat, kebiasaan kecil bisa menjadi tabiat.

ta·bi·at n 1 perangai; watak; budi pekerti; 2 perbuatan yg selalu dilakukan; kelakuan; tingkah laku.

Kalau sudah begitu, sampai kapan kamu menolak untuk benar?

Mengutip jargon klise pariwara yang masih dipakai hingga kini, “Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan bahasa Indonesia?”

Untuk lanjutan tulisan ini, sila klik di sini.

Advertisements