Hari Kamis pekan lalu (22/03/12), gw berkesempatan nonton film di BIOSKOP setelah beberapa dekade ga pernah nonton di bioskop. Gw nonton sama teman-teman gw, sebut saja Mawar, Melati, semuanya indah. Kerjaan kami mengharuskan review box office akhir pekan setiap hari Senin, tanpa nonton sama sekali! Oleh karena itu menurut gw nonton kali ini agak spesial. Or is it just me being overreacted? Ah, never mind. We decided to watch one of the most-anticipated movies of this year, “The Hunger Games”.

Pada scene-scene pertama film ini berjalan membosankan. Lambat. Film ini diangkat dari novel trilogi Suzanne Collins jadi wajar aja si pembuat film ingin mencoba membangun atmosfer yang ada di buku karena penonton yang udah baca bukunya pasti akan membandingkan isi film sama novel. Meskipun gw anggep itu sama sekali ga adil. Karena membandingkan satu karya yang dibuat dalam dua medium dan campur tangan pembuat yang berbeda jelas akan menghasilkan karya yang berbeda pula. But hey I’m not here to talk about that. I’d like to review the movie. So if you haven’t watched it yet and intend to watch it, I suggest you to close this blog right now! It contains too much spoilers, I tell you. 

Awalnya gw ga tau ini film tentang apa namun kemudian si Mawar ngasi tau ini film yang diangkat dari novel kaya Harry Potter. Damn, I was shocked. I hate Harry Potter so much that I don’t know why I keep writing his name, Harry Potter, in this post. Film adaptasi dari novel yang gw suka itu cuma “The Lord of The Rings” dan “Fight Club.”

Ketika pertama kali denger “The Hunger Games” ramai diberitakan, gw kira film ini ada hubungannya dengan bencana kelaparan yang lagi booming jadi perhatian di seluruh dunia, for God knows how long. Tapi film ini ternyata sama sekali tidak menghadirkan satupun isu tentang kelaparan. Cuma ada satu adegan si Peeta Mellark (Josh Hutcherson) buang roti dan si Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dalam potongan scene yang secara repetitif ditampilkan. Buat orang yang ga ngerti (atau cuma gw doang?) pasti nyangka kalo Katniss waktu itu kelaparan dan Peeta malah buang-buang makanan untuk dikasih ke babi makanya dia jadi (terlihat) benci sama Peeta sejak awal film. Sampai akhir film gw masih belum ngerti alasan si Katniss terlihat benci ngeliat Peeta. Memang untuk beberapa bagian si pembuat film alpa menyajikan latar belakang karakter sehingga membuat orang yang belum pernah baca novelnya mungkin agak sedikit kebingungan.

Dua jam lebih sedikit menonton, sudah pasti ada yang bisa diambil dari film ini. Menurut gw ada satu entitas analogi yang bisa ditangkap dari film ini secara umum. Acara TV! Ada beberapa unsur dalam film ini yang juga bisa kita kaitkan dengan acara TV. TV dan segala isinya selalu menarik buat semua orang termasuk gw. Oleh karena itu berikut persamaan acara TV dan film itu yang bisa gw lihat:

Reality Show

Pertama adalah ide pokok cerita film ini sendiri. Kalo diliat secara keseluruhan, film ini mirip beberapa acara reality show yang digabungkan menjadi satu kesatuan dan dikemas dalam satu paket bernama film. Di film ini jalan ceritanya mirip “Big Brother” yang memakai kamera luar biasa banyak yang mengintai gerak-gerik semua peserta. Logo mata dalam acara “Big Brother” konon diambil dari simbol Illuminati atau yang lebih dikenal dengan All Seeing Eye.

Simbol semacam ini ada di lembar satu dollar Amerika yang bertuliskan Annuit cœptis yang secara etimologis bermakna “Dia menyetujui apa yang kalian lakukan.” Merujuk pada ide tersebut agaknya pantas jika disandingkan dengan acara “Big Brother” yang dalam OED diartikan sebagai oknum atau apapun yang mengawasi kehidupan orang lain atau dalam istilah kerennya omnipresent. Selain itu hampir sama dengan konsep Annuit cœptis, “The Hunger Games” berkisah tentang dunia dystopia, yang semuanya diatur oleh kekuatan represif. Dunia dystopia dalam “The Hunger Games” bernama Panem. Panem terdiri dari 12 distrik. Semua distrik itu diatur oleh sistem pemerintahan The Capitol yang otoriter. So I guess it’s pretty relevant to make a comparison between them.

Acara ini dikemas dengan kamera di setiap sudut ruangan untuk mengawasi semua gerak-gerik peserta. Apart from the drama that offered by each participant, people are fond to feel ‘goddish’ experience. We all love to play The Sims to pretend like (g)od. Dalam film tersebut mereka juga menggunakan teknik ini untuk memosisikan penonton sebagai tuhan supaya acara tersebut lebih menjual. Dengan begitu penonton bisa terikat secara emosional sama karakter dalam film itu. 

Lalu film ini juga terlihat seperti “Survivor” saat semua orang berjuang hidup dengan bekal seadanya. “Survivor” adalah salah satu acara yang dikritik karena menampilkan pengkhianatan. Indeed, we live in the jungle, it’s the survival of the fittest out there. Dalam film ini semua orang saling bunuh untuk menjadi juara. Tanpa ampun.

Wanita

Karakter heroine, Katniss Everdeen, yang dimainkan oleh Jennifer Lawrence cukup berkarakter. Tokoh wanita selalu menarik ditampilkan dalam peran yang seharusnya diambil oleh pria. I don’t want to be a sexist. There is a fine line between a sexist and a realist. Acara petualangan di TV, yang sebenarnya lebih cocok dibawakan oleh pria, akan mempunyai ‘nilai lebih’ jika dibawakan oleh wanita. Penonton suka liat wanita ‘disiksa’ dengan dihadapkan pada ular atau binatang lain yang mungkin bagi sebagian pria biasa saja. Itu lebih menjual dalam bisnis hiburan. So if you think that TV is implementing so-called gender egalitarianism by using female presenter to overtake male role you might be wrong, or I might be wrong.

Acara debat-debat sengit yang menghadirkan bintang tamu yang beringas juga terasa bedanya jika diakomodir oleh moderator wanita. Ambil contoh TVsatu, yang katanya acara debat klub pengacara intelek itu, karena dimoderatori seorang cowok, debat itu ga pergi kemana-mana. Hanya jadi debat kusir semata tanpa ada closure. Beda halnya dengan acara yang dimoderatori oleh wanita, jika narasumber sudah memanas dan suasana sudah tidak kondusif maka cukup dengan kata “maaf pak, kita beralih dulu ke narasumber lain” ditambahi sedikit senyum dari pembawa acara yang cantik, narasumber yang tadinya sudah siap berubah jadi Saiya langsung melunak. Sekali lagi ini bukan sexist, ini murni psikologis. TV sangat pintar memainkan psikologis siapapun.

Berikut kutipan dari Lawrence S. Sugiyama, Professor Antropologi Budaya Universitas Oregon dalam Physical Attractiveness in Adaptationist Perspective:

Attractiveness was a factor in many choices our ancestors had to make in daily life: what to eat, where to camp, with whom to ally themselves or mate.

Dalam teorinya tersebut, yang pernah gw jadiin bahan rujukan skripsi, Sugiyama bilang pada dasarnya manusia itu pasti memilih figur yang paling baik secara visual untuk dijadiin pasangan atau setidaknya ‘diidolakan’, bahkan ada aturan waist-to-hip ratio yang menentukan proses mating itu sehingga…Ah biar lo cari sendiri aja ya, masa disuapin mulu. *padahal udah lupa-lupa inget 😀 Yah pokoknya intinya cewek ‘ideal’ itu membawa dampak lebih pada siapapun – termasuk politikus dan pengacara pemberang yang berdebat dengan hanya berbekal kepercayaan diri lebih tersebut – kata Sugiyama loh!

Iklan Terselubung

Dalam film ini ada adegan di mana Katniss terluka ketika dikerjai oleh tributes lain yang bersengkokol mau membunuhnya. Dia terpaksa tinggal di atas pohon, kesakitan hingga tertidur lalu ada paket terbang datang. Isinya semacam pengoles luka yang mujarab. Belakangan gw tau bahwa itu yang disebut sponsor dalam adegan sebelumnya.

Lalu ada adegan di mana Peeta terluka dan minta dicium lalu dengan malu-malu si Katniss menciumnya lalu datang paket lagi. Isinya sup. Dengan catatan kurang lebih “You call that a kiss?” Sup jelas bukan untuk penambah gurih ciuman, tapi sup diberikan untuk membangun romansa di antara keduanya. Dengan adegan menyuapi Peeta yang sedang sakit (Damn I hate this scene), penonton lebih tersentuh dengan adegan romantis menyuapi tersebut. Di sini sponsor ‘terlihat’ punya kuasa untuk memasarkan produk dengan cara yang mereka inginkan pada pemerannya.

Untuk mensponsori acara, pembuat acara butuh iklan. Dalam stasiun TV wajar ada commercial break, saat yang jelas-jelas dialokasikan untuk pengiklan memasarkan produk mereka, namun yang kejamnya ada acara yang secara terselubung memasang iklan mereka yang mungkin tidak terlalu kita sadari dan itu terekam di otak kita karena ditampilkan secara repetitif sehingga menciptakan persepsi atau sensasi tertentu atau dalam istilah yang diciptakan oleh seorang peneliti pasar, James Vicary, disebut sebagai subliminal message/advertising.

Beberapa ada yang ‘memaksakan’ iklan masuk ke dalam plot seperti bisa dilihat dalam “Indonesian Idol” yang ceritanya lagi kumpul bareng teman-temannya terus sampai pada suatu titik di mana mereka semua serentak mengeluh kelaparan dan tiba-tiba seorang temannya dengan hati mulia masak satu mangkok besar mie instan untuk dimakan rame-rame. Dan sudah pasti ada logo mie instan tersusun dengan rapi di sekitar meja makan dan mereka memuji kelezatan mie instan tersebut. Sesuatu yang ganjil dilakukan dalam kehidupan sehari-hari namun dipaksakan menjadi suatu cerita yang tidak masuk akal demi iklan. Namun iklan yang kaya gitu yang justru efektif menurut Vicary.

Pada tahun 1957, Vicary membuat penelitian tentang subliminal messaging. Dia melakukannya di sebuah bioskop di Fotr Lee, New Jersey dan selama enam pekan dia menguji subliminal messaging pada lebih dari 45.000 penonton bioskop.

Dalam film yang berjudul “Picnic” dia menampilkan dua subliminal message.“Makan Popcorn” dan “Minum Coca-Cola”. Pesan tersebut berisi teks yang ditampilkan dalam waktu 0.03 detik – lebih cepat daripada yang dapat dilihat mata manusia – namun ditampilkan setiap 5 detik. Selama enam pekan setelah ekperimen tersebut dilakukan hasil penjualan dibandingkan dengan penjualan sebelumnya. Dan efeknya ga main-main! Penjualan popcorn meningkat 57% sementara Coca Cola naik 18,1%.

Ada juga yang terang-terangan memasang iklan dalam satu film, ambil contoh Chevrolet Camaro dalam “Transformer” atau Mini Cooper dalam “The Italian Job.” Ini sih iklan edan-edanan. Kalo iklan rokok yang paling lama yang pernah gw tonton cuma sekitar 4 menit dan udah bikin ternganga, iklan mobil ini berdurasi DUA JAM LEBIH dan ditonton di seluruh dunia! Ga kebayang kan berapa duit yang dikeluarin dan yang didapat untuk iklan dalam film macem ini?

Kesuksesan Apple sebagai brand yang komputer yang elegan juga didukung dengan product placement dalam film. Udah terlalu banyak film yang pake Macintosh entah untuk apa dan memamerkan logo Apple di depannya. Jadi yang patut dipertanyakan adalah ketika pidato, SBY memilih memakai iPad dan menunjukkan logo Apple dalam pidato kepresidenan yang ditonton oleh semua rakyat itu apakah termasuk subliminal message? Dan jika iya, kira-kira dibayar berapa dia oleh Steve Jobs? Oke mulai ngelantur.*Takut diciduk BIN.

TV Personality

Yang ini mah ga usah panjang lebar jelasin kesamaannya ya. It’s obvious. Dalam adegan awal ketika para tributes diperkenalkan pada warga The Capitol si Katniss tampil beda dengan api di punggungnya. Gw nangkepnya sih ini simbol semiotik dari unsur yang membedakan seorang bintang dengan rakyat sipil biasa. Bintang harus tampil menonjol, memorable dan distinctively different. Dengan begitu mereka bisa dibedakan dari bintang lainnya apalagi dengan kaum jelata. Citra yang dibangun jadi demikian penting ketika sudah terlalu banyak pesaing. Ditambah ketika si Peeta megang tangan Katniss sambil bilang “They’ll love it.” Itu semua dilakukan Peeta supaya The Capitol simpatik kepada mereka. Dan kemungkinan mereka untuk menang lebih besar. Sama halnya ketika Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu mesra-mesraan di sinetron dan akhirnya berubah jadi nyata dan akhirnya membuat penonton lebih simpatik dan berujung pada catastrophe besar. “Cinta Fitri” LIMA MUSIM eh ENAM eh TUJUH, tau lah ada berapa musim. Tapi gw seneng yang penting cinta Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar infinite. 😀

Semua unsur dalam TV tersebut ada dalam film “The Hunger Games”. Jadi gw ga terlalu nganggep ini film. Lepas dari fakta bahwa film ini masih merajai box office pada pekan kedua penayangannya dan dengan pendapatan terbesar ketiga debut film dalam sejarah setelah “The Dark Knight” dan “Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2”, secara keseluruhan sih menurut gw ini film biasa aja, overrated malah. Ditambah efek kamera shaky yang ganggu banget, ga seperti “District 9” atau “Cloverfield” yang memang jelas dibuat dalam format menyerupai film dokumenter. Tapi ya namanya juga film, bagus atau nggaknya tergantung dari yang nonton. Dan yang paling penting, film itu hiburan, apapun ceritanya.

Advertisements