Okay, ini tulisan kedua gw yang ngebahas tentang film. Di antara banyak film yang gw tonton, film animasi adalah salah satu genre film yang gw gemari. Gw mengagumi tidak hanya tingkat kerumitan dalam membuat film genre ini tapi juga kejelian creator dalam mengemas unsur-unsur animasi menjadi sebuah film. Untuk memproduksi sebuah film animasi paling tidak dibutuhkan satu tahun penuh untuk menyelesaikan semua elemen pembangun cerita. Dari mulai menggambar karakter, background sampai proses pewarnaan dan rendering.
Dibandingkan dengan film non-animasi, film animasi seharusnya minim bloopers. Bloopers atau goof adalah suatu scene yang tidak sengaja atau sengaja dimasukkan ke dalam film yang sama sekali tidak dibutuhkan untuk membangun suatu scene atau elemen yang tidak berkesinambungan (continuity) antara scene yang satu dengan scene sebelumnya. Berangkat dari pemikiran logis, dalam film animasi, menurut gw kecil kemungkinannya terdapat bloopers karena untuk memasukkan satu unsur saja dibutuhkan proses menggambar dan proses pewarnaan ditambah gabungan beberapa frame untuk menciptakan kesan motion jika sebuah unsur tersebut bergerak. Singkat kata dalam film animasi hampir semua atau malah mungkin seluruh unsur yang masuk dalam frame suatu scene itu sengaja dimasukkan untuk mendukung cerita secara langsung ataupun secara sebagai unsur semiotik.
Film-film yang akan dibahas, dipilih berdasarkan dua keunggulan, yaitu: kekuatan visual dan kekuatan cerita film itu sendiri.

5 Centimeters Per Second (2007)
5 Centimeters Per Second adalah film animasi Jepang besutan Makoto Shinkai. Judul asli film ini dalam bahasa Jepang adalah Byôsoku 5 senchimêtoru. Film ini menawarkan keindahan visual yang menurut gw sangat spektakuler. Pewarnaan yang bold, background yang keren, detil-detil kecil yang sangat diperhatikan, serta gerakan karakter yang agak kaku tapi disuguhkan dengan karakterisasi yang cukup kuat menjadi keunggulan dalam film ini. Film ini dibagi menjadi tiga chapter, mengisahkan perjalanan cinta Takaki dan Akari. Masing-masing chapter menggambarkan kehidupan kedua tokoh dari bangku sekolah hingga mereka beranjak dewasa.
Plot yang cukup dramatis menampilkan cinta yang taksampai antara keduanya. Kisah cinta mereka harus terpisahkan oleh jarak saat Akari pindah sekolah. Keduanya berjuang untuk menyatukan cinta mereka namun semuanya terlambat karena mereka sudah terlanjur berjalan di kehidupannya masing-masing. Seperti judulnya 5 Centimeters Per Second  konon merupakan kecepatan bunga sakura yang gugur jatuh ke tanah. Perumpamaan tersebut merupakan representasi kehidupan manusia yang lambat dan walaupun mereka memulai (jatuh) pada saat yang sama, namun akhirnya mereka tertiup angin dan berakhir (jatuh) pada tempat yang berbeda. Buat yang sedang dilanda kegalauan karena cintanya taksampai, film ini mungkin cukup mewakili karena ceritanya mungkin sama tragisnya dengan cinta kalian tapi to make it even kalian bisa menikmati kesedihan dengan tampilan visual yang memanjakan mata.

Despicable Me (2010)
Film ini berkisah tentang Gru, tokoh antagonis dengan ambisi aneh. Dengan menggunakan senjata pengecil ia ingin mencuri bulan. Pada suatu titik ia bertemu dengan ketiga anak yatim piatu; Margo, Edith, Agnes. Sesuai dengan tagline film ini. Gru yang tadinya mendapat julukan Superbad berubah menjadi Superdad berkat kehadiran ketiga anak tersebut. Namun menurut gw kekuatan dari film ini sebenarnya berada pada karakter kecil namun banyak, Minion. Menurut Oxford, minion merupakan kata resapan dari bahasa Perancis, mignon atau mignonne yang berarti pengikut dari orang yang kuat, biasanya sangat tidak penting. Pengatributan nama tersebut menurut gw justru merupakan strategi narrator untuk memutarbalikan persepsi bahwa minion mempunyai peran penting dalam film ini. Dapat dilihat dari frekuensi kemunculan minion dalam banyak scene sehingga dapat dikatakan bahwa kehadiran tokoh minion juga berkontribusi besar pada plot (maaf agak ilmiah, masih terbawa nuansa skripsi).
Ya, peran pasukan Gru ini sangat signifikan dalam memperkaya cerita secara keseluruhan. Ketololan para minion stole the spotlight dalam film ini. Bagian-bagian dalam film ini di mana gw ketawa selalu karena tingkah lucu minion. Baru-baru ini mini film tentang keunyuwan minion juga diunggah di youtube. Kalian bisa lihat sendiri ketololan minion memperebutkan sebuah pisang. Menurut gw film yang menawarkan cerita yang standar dengan villain yang terobsesi ingin menguasai dunia, seperti film ini, tidak akan sesukses ini jika minion tidak ada. Hidup minion cau!
Trivia: Cau dalam bahasa sunda bermakna pisang. Bisa juga jadi kalimat ejekan ringan namun sebenarnya sayang seperti “dasar taplak!” dalam budaya betawi. Sumpah ini ga penting, makanya gw bilang trivia. 😀

Grave of the Fireflies (1988)
Grave of the Fireflies atau Hotaru no haka dalam bahasa Jepang merupakan salah satu film terbaik sepanjang sejarah menurut IMDB. Gelar tersebut menurut gw tidak berlebihan sama sekali karena film ini memang layak mendapatkan gelar sebagai film terbaik sepanjang masa. Agonia yang dirasakan oleh kakak beradik Seita dan Setsuko dengan setting perang dunia kedua di Jepang disajikan dengan sangat kental dari awal sampai akhir film. Pada scene pertama film, emosi penonton sudah dikocok-kocok dengan penderitaan Seita yang sedang sekarat. Keadaan tersebut merupakan akibat dari kematian ibunya ketika terjadi serangan udara tentara sekutu. Sementara ayah mereka, yang juga seorang tentara, tidak kembali dari perang, oleh karenanya Seita bertanggung jawab penuh atas kehidupan adiknya. Terpaksa mengungsi dan menumpang di rumah bibinya justru membuat masalah mereka kian menjadi. Bibinya memperlakukan mereka seperti orang lain bukan sebagai keluarga. Memutuskan pergi dari rumah bibinya mengantarkan mereka pada kehidupan yang jauh lebih buruk. Mereka kelaparan, tinggal di sebuah gua di pinggiran sungai. Hiburan mereka satu-satunya yang sejenak dapat melupakan kehidupan mereka yang tragis adalah dengan menonton kelap-kelip indahnya cahaya kunang-kunang.

Pada paragraf pertama tulisan ini gw sudah bilang bahwa akan membahas film rekomendasi gw berdasarkan pertimbangan visual dan atau cerita film itu sendiri. Film ini masuk ke dalam kategori film animasi dengan cerita yang superb menurut gw. Dalam menilai film ini, gw ga terlalu concern sama animasinya karena penilaiannya sudah melebur menjadi satu paket yang memukau dengan cerita yang luar biasa menyentuh. Saran gw sebelum nonton film ini, siapin tissue karena walaupun kalian mengaku seTegar lagu Rossa, setelah nonton film ini gw jamin kalian bakal merasakan Sedih TakBerujung kaya Glen Fredly. Minum yang banyak sebelum dikuras air matanya. I warned you!  

How to Train Your Dragon (2010)
Kalo sebelumnya film diatas unggul dari segi cerita, film ini menurut gw unggul both dari segi cerita maupun tampilan visualnya. Cerita yang ditawarkan juga mengena bagi sebagian orang termasuk gw (bukan curhat). Diceritakan dalam film ini, Hiccup merupakan anak semata wayang dari tetua Viking (bukan Persib), Stoick The Vast. Stoick yang laki banget terlalu memandang rendah anaknya Hiccup yang berperawakan tidak lebih besar dari…tusuk gigi. Akibatnya Hiccup selalu direndahkan bahkan secara repetitive dalam beberapa scene, Stoick mengungkapkan kekecewaannya memiliki anak seperti Hiccup yang sama sekali tidak barbar seperti orang Viking lainnya dengan mengatakan “…but you looked like this”sambil menunjuk keadaan fisik Hiccup secara keseluruhan dengan gesture dan mimik wajah yang merendahkan. Kejadian ini relevan dengan kehidupan nyata lingkungan di sekitar kita (atau perasaan gw doang? Nah loh). Orang tua sering meremehkan anak muda karena kita seringkali tidak tumbuh menjadi sosok yang ideal menurut persepsi mereka. Tapi dengan hati seputih kapas dan selembut sutra, Hiccup tidak terjebak dalam ekspektasi masyarakat yang menuntut dirinya untuk menjadi seperti mereka. Dengan kelebihannya ia berhasil menghapus atau setidaknya mengurangi stereotype bahwa semua orang Viking barbar.

Yang gw suka dalam film ini, selain ceritanya juga bagus, bahasa yang sastra banget, juga tampilan visualnya yang sangat memukau. Kelakuan Toothless, naga Night Fury, dengan kekuatan super namun rendah hati, dibuat konyol dengan perilaku mirip manusia. Ada saat ketika baru pertama kali bertemu dengan Hiccup ia malu-malu. Dia bahkan menutup muka dengan sayapnya, ga mau diliatin Hiccup, dia bisa ngambek kalo Hiccup melakukan suatu hal yang dia ga suka, waktu Hiccup dicium Astrid, tokoh heroine dalam film ini, dia berdiri di samping Hiccup dengan satu colekan dan mata yang seolah-olah bicara “Cie-cie dicium!”. Ya semua dialog naga diverbalkan dengan bahasa tubuh. Membuat film ini sangat brilian menurut gw. Karena gw tau, bahasa tubuh beda dengan bahasa lisan. Penggunaan bahasa lisan membuat maksud lebih mudah tersampaikan daripada bahasa tubuh. Tapi dalam film ini bahasa tubuh berhasil menggantikan bahasa lisan dan maksudnya tersampaikan dengan jelas. Selain bahasa tubuh, isyarat semiotik juga sering ditampilkan dalam film ini. Satu scene yang paling semiotik menurut gw adalah ketika di akhir film. Kaki Hiccup diamputasi dan diganti dengan kaki palsu. Kamera lalu menyorot dengan teknik low-profile, hanya menampilkan kaki Hiccup dan sayap belakang Toothless yang sama-sama pincang menunjukkan bond antara mereka yang demikian lekat karena keadaan fisik, kelembutan hati dan visi mereka yang kini menjadi equal dan melebur menjadi suatu persahabatan yang abadi. To conclude all statements above, I tell you, this movie is funtastic!

Spirited Away (2001)
Dalam versi Jepang film ini berjudul Sen to Chihiro no kamikakushi, disutradarai oleh Hayao Miyazaki yang juga menyutradarai film Howl’s Moving Castle. Dari kedua film yang sudah gw tonton tersebut, bisa ditarik simpulan bahwa Miyazaki sering mengedepankan hal-hal superstitious dan sifat-sifat dasar manusia yang egois, tamak dan tergila-gila pada kekuasaan sebagai ide pokok cerita dari film-film yang dibuatnya. Spirited Away bercerita tentang petualangan seorang anak perempuan bernama Chiciro menyelamatkan kedua orang tuanya yang terjebak dalam suatu tempat yang berisi dewa, penyihir dan binatang aneh. Tempat mistis tersebut sering memakan korban. Daya tarik tempat tersebut dipenuhi oleh makanan-makanan enak dan disajikan gratis. Buffet tersebut tentu saja menarik bagi manusia yang rakus (Sizzler, Pronto, Hartz Chicken Buffet atau tempat makan all-you-can eat perlu diwaspadai setelah belajar dari film ini).

Manusia atau dalam film ini, orang tua Chiciro, digambarkan seolah-olah tidak pernah merasa puas dan kenyang. Setelah makan banyak akhirnya mereka berubah menjadi babi, simbol ketamakan. Chiciro menemui banyak rintangan dalam menyelamatkan orang tuanya tersebut namun dengan kemurnian jiwanya ia berhasil melalui setiap rintangan tersebut. Film ini mengajarkan betapa rakusnya manusia dan keputihan hati seorang anak kecil diperlukan untuk menghindarkan manusia dari nafsu-nafsu duniawi yang menjerumuskan.

Kadang-kadang khotbah dan petunjuk dalam menjalani hidup tidak harus selalu didapatkan dari tempat ibadah. Film yang bagus juga dapat menjadi salah satu media khotbah yang menarik jika kita memilih untuk menjadi pribadi yang tidak careless dan ignorant. Selain itu, film tidak membosankan. 😀

Advertisements