Sebenernya tulisan ini udah gw mulai beberapa minggu lalu, tapi nyatanya baru selesai sekarang, bahkan udah ada beberapa tulisan yang sebelumnya sama sekali ga direncanain dan udah gw post. Biasanya kalo gw bener-bener niat nulis, sehari juga udah jadi tapi tulisan ini agak beda, ga tau kenapa. I have tried so many positions to write this post for God’s sake, mulai dari duduk, telungkup, sampai gaya lotus pun udah gw coba tapi tetep aja masih belum keluar kalimat pertama. Ide penulisan ini bermula ketika ngobrol-ngobrol sama temen yang sering disindir masalah hidung. Trus gw iseng-iseng ngetwit tentang niat gw untuk nulis masalah ini tapi ada temen yang salah terima dan nanggepin twit gw dengan sinis. Dari situ gw belajar bahwa tulisan ini mungkin nantinya bakal agak sensitive, makanya gw memutuskan to give myself more time to write this carefully, to avoid someone to get hurt. Akhirnya setelah beberapa minggu tulisan ini gw terlantarin (dan permintaan narasumber yang udah terlanjur gw wawancarain :D), gw mulai buka laptop, mencoba menyelesaikan tulisan ini, starts from scratch, again.

Gw adalah tipe orang yang nganggep bahwa lagu itu sama kaya buku. Selalu ada pelajaran yang bisa ditarik dari lirik lagu. Oleh karena itu, sebagai ganti buku, gw bakal pake lagunya Lady Gaga, Born This Way sebagai referensi.

I’m beautiful in my way
‘Cause God makes no mistakes
I’m on the right track, baby
I was born this way

Don’t hide yourself in regret
Just love yourself and you’re set
I’m on the right track, baby
I was born this way, born this way

Lirik di atas adalah salah satu penggalan kalimat dalam lagu Born This Way, Lady Gaga. Menurut gw, lagu ini bisa jadi backsound ketika lo baca blog ini, karena lagu ini paling mewakili gagasan utama tulisan ini secara keseluruhan. Lady Gaga yang lagi hype banget sejak setahun kemarin berhasil nangkep persoalan yang mungkin sering dihadapi oleh fans-fansnya dengan kisaran umur 20an, krisis kepercayaan diri atau yang menurut kata yang lagi naik daun sekarang, labil.

Krisis kepercayaan diri ini merupakan salah satu masalah yang mungkin timbul karena bentuk hidung. Hidung bagi semua orang merupakan organ vital untuk menghirup oksigen, yang dipake buat mompa jantung dan seterusnya. Jadi semua orang seharusnya sudah cukup puas dengan mempunyai hidung yang tidak bercacat, yang dapat menjamin pasokan oksigen, namun tidak dengan sebagian orang. Hidung yang tadinya hanya berfungsi sebagai alat pernapasan kini bergeser nilainya menjadi sebuah fashion product. Sebagian orang bersyukur dengan keadaan hidung mereka, namun sebagian lagi berlomba-lomba untuk memiliki bentuk hidung yang bagus. Persepsi mereka tentang hidung bagus sudah jelas dipengaruhi oleh apa yang mereka lihat dan so-called pergeseran zaman gaya hidup. Iklan adalah salah satu yang unsur yang membentuk persepsi yang salah kaprah ini. Model-model iklan yang ditayangkan mempunyai bentuk hidung yang mancung, yang secara fotografis menarik untuk dilihat. Mereka meredefinisi bentuk hidung yang proposional adalah yang mancung, dan celakanya masyarakat mengamini hal tersebut. Dari sini, persepsi masyarakat berubah. Menganggap bahwa hidung dengan bentuk yang tidak mancung adalah tidak bagus. Orang-orang menjadi tidak percaya diri dengan bentuk hidungnya yang tidak menyerupai apa yang mereka lihat di iklan, film, dan sebagainya. Akibatnya orang-orang mencari bentuk hidung yang sempurna dengan melakukan rhinoplasty atau nose job atau operasi hidung.

Ketidakpercayaan diri orang-orang dengan bentuk hidung yang tidak terlalu menarik tersebut tidak lepas dari campur tangan pihak luar. Temen gw, sebut saja Anisa, bilang sama gw kalo dia diejek temennya tentang hidungnya yang mirip buah pir, dia bakal mengaplikasikan apa yang disebut dalam ilmu psikoanalisis sebagai self-defense mechanism, dari yang tadinya menerima lalu sampai pada tahap denial. Dari yang semula terima-terima aja sampai akhirnya dia selalu ngaca. Tahapan ngaca itu yang disebut denial. Perasaan “emang bener ya idung gw aneh?” saat ngaca itu is more like a state of unconfidence. Beda lagi dengan Fega, temen gw yang lainnya. Dia bilang kalo bentuk hidungnya yang kecil yang dia sebut mirip duku, sama sekali ga bikin dia merasa kalo ejekan tentang bentuk hidungnya tersebut mendiskreditkan dia. Tapi tetep kalo lelucon tentang bentuk hidungnya tersebut terus diulang, dia bakal ngerasa jengah.

Ada kalanya lelucon tentang hidung itu lucu jika diungkapkan pada orang yang kita kenal dengan baik dan dengan frekuensi yang tidak terlalu sering. Tapi kalau lelucon tersebut terus diulang-ulang sama saja dengan penghinaan terhadap kekurangan fisik seseorang. Lelucon tersebut menurut Fega, adalah lelucon yang tidak cerdas. Sementara Anisa, lebih memaklumi jika yang mengejeknya adalah orang yang ia kenal dengan baik. Simpulan pertama yang bisa ditarik dari pernyataan tersebut adalah bahwa untuk menghina hidung atau penampilan fisik lainnya, lo harus deket dengan orang tersebut. karena kalau lo termasuk orang yang baru kenal dan langsung mengejek lo bakal dianggap sebagai orang yang tidak bisa menghargai, yang menilai seseorang hanya dari fisik. Pun kalau lo udah deket dengan orang tersebut, lo ga bisa juga terus-terusan ngomong tentang hal itu, find another joke to talked about, be more creative. Karena lelucon-lelucon yang hanya mengedepankan fisik sebagai referensi sama sekali tidak cerdas dan jelas mempunyai kesempatan lebih besar untuk menyinggung. Dari kedua orang temen gw itu, yang berkelamin perempuan, bisa dikatakan bahwa mereka bakal lebih tersinggung kalau yang mengejek hidung mereka itu adalah temen laki-lakinya. Menurut gw ini wajar, karena wanita selalu berusaha tampil semenarik mungkin di depan lawan jenisnya. Ini bukan generalisasi semata-mata. Lo yang laki-laki bisa nyoba tes sederhana sama cewek, bilang kalau dia bau ketek, mereka bakal salah tingkah dan bilang “masa sih?” sambil mundur pelan-pelan. Dan hal itu berlaku juga sama sebaliknya. Cowok kalau dibilang bau sama cowok pasti bakal masa bodo. Tapi kalau cewek yang bilang, we’ll feel like falling from seventh heaven.

Menurut sumber yang gw baca, bentuk hidung itu dipengaruhi oleh latar belakang budaya, genetik, dan atau cedera. Selain itu, evolusi dan iklim juga berperan penting dalam mempengaruhi bentuk hidung seseorang. Orang yang lahir atau tinggal di tempat dingin biasanya berhidung mancung. Hidung mereka diciptakan berbentuk mancung untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya pada tempat dengan kadar oksigen yang tipis. Permukaan hidung yang lebih besar tersebut membuat lapisan lendir di hidung memiliki kesempatan lebih besar untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang dingin yang kemudian masuk ke paru-paru. Maka dari itu hidung orang yang tinggal di Asia beda dengan hidung Eropa atau disebut hidung dengan tipe Caucasian. Hidung tipe Caucasian yang tidak terlalu lebar dan mancung inilah yang sering menjadi acuan orang-orang dalam melakukan rhinoplasty atau operasi hidung. Hal ini wajar karena budaya Eropa yang maju dan mempunyai kesempatan lebih besar terpapar dengan dunia luar. Iklan-iklan lebih banyak mempromosikan produk luar, film-film Hollywood yang beredar luas yang notabene modelnya memiliki hidung yang lebih mancung membuat orang-orang, mau tidak mau, terjebak dengan mindset bahwa hidung yang sempurna adalah seperti model atau bintang film yang mancung tersebut.

Di antara orang-orang yang tidak puas dengan bentuk hidung mereka tersebut, banyak yang tidak menyadari bahwa setiap hidung itu unik in some way, bentuk hidung yang berbeda pada setiap orang bisa jadi ciri khas bahkan membuat seseorang tersebut terkenal. Liat aja Yati Srimulat yang lebih terkenal dengan nama Yati Pesek, Benyamin Sueb seniman betawi legendaris yang mempunyai ciri khas hidung yang besar atau David Schwimmer yang terkenal dengan bentuk hidung Jewishnya itu. Don’t ever think you cannot be who you want to be just because your nose doesn’t look good like common people. Tuhan menciptakan kita dengan seksama dan istimewa, each of us. Jadi jangan percaya dan bermuram durja ketika mendengar jargon “Waktu Tuhan bagi-bagi hidung, pasti lo ga dateng ya?”. Because you’re special. God create you intentionally for a divine purpose. 😀

All credits to Anisa&Fega. Thanks for sharing your thought.

Advertisements