Banyak orang mempunyai agama dan menjalani agamanya tersebut dengan sepenuh hati dan bertoleransi pada agama lain. Tapi banyak juga orang yang menjalani agamanya dengan baik tanpa mengerti agama lainnya atau setidaknya mengenal dengan baik. Sehingga jika ada konfrontasi yang melibatkan agama lain, mereka akan memandang sinis atau bahkan menjauhi pemeluk agama lain.


Banyak diantara kita yang pintar namun tidak punya cukup waktu untuk belajar. Kesibukan menjadi alasan dan akhirnya membuat mereka menjadi pribadi yang egosentris. Yang menganggap kebenaran mutlak ada dalam dirinya. Saya mengagumi orang-orang yang taat dalam beragama tapi saya lebih menghargai orang yang taat sekaligus mempunyai lebih banyak referensi tentang agama. Pernah suatu hari saya bertandang ke rumah teman saya. Di sana saya bertemu dengan bapaknya. Saya memperkenalkan diri. Mulanya saya memperkenalkan diri dengan nama panggilan ‘Noel’, lalu karena ucapan saya sepertinya tidak terdengar jelas saya mengulangnya dengan menyebut nama lengkap ‘Imanuel’. “Oh, Tuhan beserta kita ya?” kata bapak teman saya. “Iya, om” saya menjawab sambil sumringah.

Nama pemberian orangtua saya ini memang sangat religius. Kadang-kadang saya merasa agak berat dengan nama yang diatributkan pada saya ini karena sudah familiar didengar banyak orang dan diasosiasikan dengan hal yang baik 😛 Tapi banyak orang yang tidak megerti arti nama saya. Nama saya hanya diidentikkan dengan nama yang berbau Kristen. Ketika bapak teman saya itu menyebut arti nama saya, tanpa saya harus bersusah payah menjelaskan, I’m impressed and felt somehow being appreciated.

Bapak teman saya itu merupakan seorang pengajar senior teologi Islam di UIN, Jakarta. Memang sebagai muslim sekaligus pengajar ia pasti tahu banyak hal tentang agama Islam maupun agama selain Islam. Tapi responnya atas nama saya itu yang saya hargai. Walaupun sesederhana arti kata, namun saya merasa dihargai sebagai seorang Kristen. Pandangan saya jadi tinggi terhadapnya. Bahwa ia tahu tentang hampir semua agama, itu pasti. Tapi ia juga menerapkan apa yang agamanya ajarkan, Iqra atau membaca dan ia bisa menghargai orang lain dengan ideologi yang mungkin bersebrangan dengan baik karena sebelumnya ia sudah mempunyai ilmu yang cukup dari kebiasaannya membaca tersebut, memosisikan dirinya sebagai pribadi yang mempunyai nilai lebih di mata saya.

Baru-baru ini saya juga mengumpulkan film-film dokumenter tentang agama dari BBC. I tell you, BBC is so great at filming religion documentary. Walaupun saya tidak terlalu suka dengan film sejarah, namun film-film dari BBC tersebut dikemas dengan sinematografi yang cantik. Saya sama sekali tidak bosan walaupun sesekali menguap ketika berbicara tentang fakta yang saya sudah ketahui sebelumnya. Tapi percayalah, selain buku, film adalah sarana belajar yang menarik. Saya jadi banyak tahu; bahwa pada zaman Muhammad, pernikahan antar keluarga itu adalah lazim; bahwa Buddha itu adalah seorang pangeran kaya yang kabur dari keluarganya untuk bertapa di bawah pohon Bodhi. Setidaknya itu membuat saya menjadi sedikit tidak canggung untuk berbicara tentang agama lain karena saya juga belajar dari sumber yang terpercaya, bukan berdasarkan asumsi yang dibentuk oleh mayoritas.

Pemikiran tersebut nantinya mungkin akan berguna dalam menilai latarbelakang tindakan seseorang yang didasari atas dasar agama. Mengenal bukan berarti harus memeluk, bukan? Apa salahnya kita mengenal lebih jauh, toh nantinya kita jua yang akan didewasakan dalam hal toleransi. Sudah terlalu banyak orang yang memilih untuk jadi ‘buta’, jangan ditambah lagi dengan ‘membutakan’ diri sendiri!

Advertisements