Bermula dari obrolan dengan beberapa teman yang memberi masukan tentang tulisan saya,  yang akhirnya membuat saya memilih untuk menulis hal-hal yang ringan saja sekarang. Kata mereka tulisan saya terlalu serius, I’m giving too much details which some people may already have known. So here I am, talking about shit (literally)Eek sebagai substansi penting dalam kelangsungan hidup manusia sering dipandang sebelah mata. Ini tidak adil. Tulisan ini akan membahas eek secara fisik dan filosofis, jadi bagi anda pengidap Coprophobia atau fobia eek, lebih baik tutup blog ini sekarang juga. Bagi anda yang tetap mau baca, you’re a jerk! 😀

Sebelumnya ini video sekilas tentang Coprophobia, walaupun akting aktris dalam video ini payah, tapi lumayan lah buat referensi dalam memahami apa Coprophobia itu. Kebanyakan fobia memang terlihat ganjil bagi sebagian orang yang tentu saja normal. Namun ketakutan itu wajar ada pada setiap manusia karena menurut Sigmund Freud manusia mempunyai fobia, ia membagi fobia bergantung pada objek dari ketakutan tersebut. Insting ketakutan inilah yang membuat manusia tetap hidup. Bayangkan jika manusia tidak punya rasa takut untuk terjun ke jurang atau berdiri di depan truk 18 roda yang melaju 150km/jam di jalan tol. Semua ketakutan tersebut diubah sebagai alat untuk mempertahankan hidup. Okay, I’m being inconsistent now by telling you a serious matter. Enough said. Eek mempunyai fungsi vital pada kehidupan manusia. Ketakutan pada eek yang begitu besar merupakan penghinaan besar pada eek. Tidak cukup dengan disiram dan dijadikan kata ganti untuk memperolok, manusia juga takut karenanya. Ini tidak adil.

Eek buat hampir semua orang dengan kemampuan metabolisme normal dikeluarkan pada pagi hari. Dilihat dari bentuk dan warnanya yang variatif, eek bisa jadi parameter kesehatan seseorang. Eek normal berwarna kuning kecoklatan dengan bentuk bisa sampai 10 cm jika sebelumnya makan tiga piring nasi dan dikeluarkan tanpa berhenti mengejan. Sedangkan eek cair atau biasa disebut mencret dihasilkan jika ada yang tidak beres dengan pencernaan. Dilihat dari segi medis, eek yang tidak bersuara dan mukanya berubah-ubah tergantung perut pemiliknya ini, memiliki peran yang besar buat orang yang sedang sakit. Selain darah dan air seni, eek digunakan sebagai sampel untuk mengecek kesehatan. Jadi ketika ada jargon “You are what you eat”  itu benar adanya. Eek itu jujur dan bersahaja. Eek ga akan tinggal diam jika si pembuatnya sakit, ia memberitahu dokter dengan raut muka, warna yang aneh-aneh dan tabiatnya yang diam-diam bau itu. Kita bisa belajar dari eek dari sini. Walaupun ia sering dianggap jijik, dicemooh, dihindari, dan diletakkan pada strata sosial terbawah manusia, ia tidak kehilangan asa. Ia tetap membantu sang pembuat yang membuatnya menjadi ada, ia tidak memperhitungkan perlakuan buruk yang ia terima sebelumnya. Tanpa mengharapkan pamrih ia berbincang dengan dokter, dengan bahasanya sendiri, mewakili pembuatnya yang sedang mengerang-ngerang kesakitan menunggu hasil diagnosis. What an unconditional love. Shit still loves you even if you deserted it. Every day!

Kelebihan eek lainnya yang relevan disandingkan dengan kehidupan manusia adalah…eek itu tegar, lapang dada dan pemaaf. Manusia terus makan dan menghasilkan eek. Manusia seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya atas terciptanya eek, tapi ga pernah ada manusia yang mau hidup sehari penuh sama eek. Mereka sibuk makan obat pencahar, demi mengeluarkan eek yang ingin merasakan kebersamaan yang agak lama dengannya. Mereka mempermainkan perasaan eek. Eek patah hati. Mengutip kata seorang eek yang enggan difoto dan disebutkan namanya “Manusia brengsek, mereka bikin kita ada tapi disaat yang sama ingin meniadakan kita juga. Mereka itu kaya lagu Katy Perry. Your hot en your kolt. Yu yes en yu no… wi fait wi brekap.” Buat manusia kenyataan yang dialami oleh eek tersebut pasti pahit, tapi eek dengan legowo menerimanya. Ia berjiwa ksatria. Ada ungkapan “Gw ikut bahagia juga kalo dia bahagia. Mencintai bukan berarti harus memiliki”. Kalau ada manusia yang bilang mereka bisa begitu, itu omong kosong. Cuma eek yang bisa begitu. Eek pergi dengan dagu terangkat. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak bolak-balik buka status twitter mantan pembuatnya dan galau ketika mantannya tersebut menulis “Duh, sembelit nih. Udah ga buang air tiga hari. Hahahah”. Kalau eek sensitif ia pasti akan menganalisis bahwa eek yang baru saja dikasi waktu tiga hari bersama dan ia masih bisa tertawa karenanya. Sedangkan dia? Baru satu hari sudah diusir dengan obat pencahar. Menyakitkan. Tapi eek tidak membalasnya karena ia takut keyboardnya belepotan eek. Eek pun berlalu. Tertunduk dan mendoakan pembuatnya tetap bahagia dengan sembelitnya. *Flusing sound*

Advertisements