Hey megalomaniac
You’re no Jesus
Yeah, you’re no fucking Elvis
Wash your hands clean of yourself, maniac, and
Step down
Step down
Step down (Incubus – Megalomaniac)

Megalomania menurut Oxford English Dictionary adalah obsession with the exercise of power, delusion about one’s own power or importance (typically as a symptom of manic or paranoid disorder). Jika diterjemahkan secara kasar, megalomania berarti delusi seseorang yang mengklaim dirinya sendiri yang paling penting, berkuasa atau kaya. Orang-orang zaman sekarang nampaknya terlalu terobsesi dengan ‘kekuasaan’. Mereka terobsesi pada segala sesuatu yang megah, banyak, tidak pernah merasa cukup dan merasa bahwa dirinya adalah the center of the universe.

Salah satu yang berperan dalam menjadikan manusia mengidap megalomania adalah teknologi. Ada yang beda dari perilaku manusia dahulu dan sekarang. Dulu lagu-lagu nostalgia sering bertemakan surat cinta. Sang wanita mengharap dengan cemas kedatangan surat kekasihnya yang sedang berada nan jauh di sana. Setelah tiga bulan tidak ada kabar, akhirnya tiba juga surat yang ditunggu. Sang wanita sumringah, pipinya memerah membaca untaian kata puja-puji dari kekasihnya. Rasa yang tidak menentu selama tiga bulan menunggu terbayar sudah. Mereka jadi pasangan baru lagi. Sekarang, sejak teknologi selular menjadi kebutuhan primer, pasangan kekasih akan menaruh curiga satu sama lain jika tidak membalas SMS dalam waktu lima menit. Lima menit terasa seperti 3 bulan, mungkin lebih. Kekasih akan saling menebak-nebak sedang apa, bersama siapa, dan dimana kekasihnya tersebut (terimakasih buat Kangen Band buat brilliant line nya). Teknologi Short Message Service tersebut berhasil membentuk orang menjadi pribadi yang tidak sabar. Yang mengharapkan semua orang responsif, cepat, cekatan dalam membalas pesan. Yang mengharapkan mereka diperlakukan sebagai yang paling penting dan harus ditanggapi secara cepat.

Sifat manusia terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Hidup manusia sekarang ditentukan oleh sebatas perhitungan statistik. Manusia tergila-gila dengan nominal, berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Nominal yang dimaksud di sini bukan hanya sebatas materi, namun juga popularitas. Sebanyak apa teman yang kamu punya, sebesar itu pula lah kesempatan kamu diterima di masyarakat. Take social media for example, di Twitter dan Facebook semakin banyak orang menekan tombol retweet atau like, menandakan bahwa kamu dipandang lebih lucu, pintar, bijaksana, asik dan sebagainya. Orang yang followersnya jauh lebih banyak daripada orang yang difollownya juga mungkin merasa sedikit lebih bangga dibandingkan temannya yang jumlah followersnya hanya dua digit (asumsi pribadi). Maka dari itu, orang berlomba-lomba untuk menulis status yang sophisticated, pintar, lucu, mengayomi, dan mewakili perasaan orang banyak sehingga target popularitasnya bisa tercapai jika dinilai dari jumlah followers, retweet dan like. Tujuannya satu, supaya spotlight tetap mengarah padanya. Lagi-lagi teknologi menciptakan karakteristik baru bagi umat manusia.

Kemajuan teknologi memulai babak baru dalam membentuk persepsi masyrakat. Seseorang akan semakin disegani berdasarkan apa yang dimilikinya. Masyarakat kemudian mengafirmasi persepsi tersebut dan menjadikan diri mereka masuk ke dalam pola hidup konsumtif. Konsumerisme bisa dilihat di segala kebutuhan manusia dari gadget, alat transportasi maupun rumah. Everyone becomes addicted dan selalu ingin menjadi yang pertama merasakan the latest so-called fashion. They only have two choices, either be part of it or get left behind. Orang-orang yang sebenarnya tidak terlalu butuh smartphone memilih untuk membelinya daripada dibilang ketinggalan zaman. Orang-orang dengan uang berlebih di rekeningnya, mengganti mobil SUV  dengan model yang so last year itu dan menggantinya dengan mobil coupé super mewah yang bumper nya bisa dipastikan terantuk saat melewati jalan berlubang di ibukota. Semuanya mereka lakukan demi sebuah pengakuan. Mereka lebih peduli tentang nilai gengsi suatu barang daripada nilai guna barang tersebut.

Belum lagi sinetron yang ditayangkan pada jam-jam prime time yang mengindoktrinasi masyarakat dengan dunia utopis. Mobil mewah, rumah besar, pacar cantik, tokoh protagonis yang selalu menang di akhir cerita. Ah, semuanya semu dan ditelan mentah-mentah. Membentuk manusia jadi terlalu optimis menjalani hidup dan mengidentifikasi hidup mereka yang sengsara dengan kehidupan aktris dan aktor yang selalu tercukupi. Berharap kehidupan mereka suatu hari nanti akan berakhir indah seperti film-film karya Walt Disney tanpa mau berusaha merintis dari bawah. Idealized self-image bagi sebagian orang jadi kacau. Mereka mereka-reka, mengakali kehidupan mereka agar menjadi sama seperti yang mereka tonton. Jika kehidupan mereka sudah menyamai atau setidaknya mendekati sama dengan kehidupan idealized self-image tersebut mereka lantas congkak. Menganggap bahwa mereka lah satu-satunya pemenang kehidupan yang keras ini.

Yang saya ingin bilang di sini adalah tidak ada salahnya mempunyai percaya diri yang tinggi karena rasa percaya diri itu lah yang nantinya akan membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi dalam pencapaian hidup. Namun jika kita terus berkaca pada diri sendiri dan mengagung-agungkan diri sendiri apa bedanya kita dengan Narcissus yang terus berkaca pada bayangannya sendiri dan mati karenanya.  Jika saya berbicara seperti ini bukan berarti saya pesimis dan tidak memiliki target dalam hidup. Tidak ada yang salah dalam memenuhi kebutuhan material namun perlu diperhatikan nilai guna bagi diri sendiri dan jangan terjebak dalam konsumerisme semu, yang membeli ini-itu hanya untuk dipandang mampu dan selalu kekinian. Jika perkembangan teknologi semakin pesat dan tidak diimbangi dengan kemajuan pola pikir maka akan timbul perbudakan manusia oleh teknologi. Because everything you owned may end up owning you.

Advertisements