Saya memang bukan ahli agama, saya juga bukan orang yang selalu menggunakan agama sebagai jawaban atas segala masalah yang terjadi di dunia ini. Tapi saya rasa setiap orang mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat mereka bahkan untuk masalah sensitif seperti agama, sekalipun orang tersebut sama sekali tidak bisa disebut sebagai seorang ahli.

Agama pada peradaban manusia adalah hasil pengejawantahan wahyu dari Sang Esa. Pertanyaan tentang apakah Sang Esa pernah secara langsung memerintahkan manusia untuk membuat agama, masih menjadi misteri bagi saya. Karenanya saya menganggap agama yang ada sekarang tidak lepas dari subjektivitas sang pembuat agama. Segala perspektif tentang Sang Esa dibuat seragam dan dikerucutkan menjadi satu entitas, agama. Membuat agama lainnya terlihat salah. Bahkan yang lebih parah adalah ketika dalam satu agama lahir satu aliran baru, mereka yang mayoritas akan berusaha keras mendoktrin aliran baru tersebut dengan ideologi yang sudah mapan atau yang terburuk, memusnahkannya sama sekali. Hal itu akan sangat memalukan jika aliran baru yang lahir tersebut ternyata lebih benar meskipun belum secara konvensional diakui kebenarannya. Lalu apa bedanya mereka yang mayoritas itu dengan kuda, yang memakai kacamata untuk menutupi pandangan kesamping dan hanya dibuat berjalan lurus?

Berikut adalah kutipan dari pasal Yohanes 8:1-11. Ini adalah salah satu kisah dalam Alkitab yang saya anggap relevan dalam menghadapi kemajemukan agama manusia.

8:1. tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Kalimat pada ayat 7 “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” adalah yang paling menohok bagi saya. Dari kalimat tersebut saya menjadi sadar bahwa adalah tidak tepat jika manusia berdosa menghakimi manusia berdosa lainnya. Tugas manusia adalah mengingatkan satu sama lainnya, bukan menghakimi. Itu tugas Sang Esa.

Saya tidak ingin bilang bahwa agama yang saya anut adalah yang paling benar karena saya sadar sepenuhnya bahwa setiap hal termasuk agama adalah debatable, masih banyak celah yang akan mudah dijungkirbalikan oleh argumen-argumen dari agama lainnya. Yang saya ingin bicarakan disini adalah bagaimana sikap kita menerima satu kebenaran baru. Banyak orang yang gegabah menyatakan suatu hal salah hanya karena mereka takut akan kebenaran yang baru, yang meruntuhkan ideologi yang mereka anut, yang mereka anggap selama ini adalah yang paling benar. Kalaupun suatu kebenaran memang benar adanya, bukankah kita masih punya pilihan untuk diri kita sendiri untuk menganut kebenaran tersebut atau tidak, tanpa mengusik kepercayaan orang lain dan memaksa mereka menelan kebenaran kepercayaan kita?

Saya masih menganggap sebuah prinsip itu penting. Tapi lebih baik saya tidak punya prinsip sama sekali jika prinsip tersebut membuat saya menganggap diri sendiri sebagai yang paling benar dan membutakan perspektif saya. Kebenaran itu masih abu-abu. Bisa saja hitam yang kita lihat menjadi putih di mata orang lain. Satu-satunya kebenaran absolute yang masih saya percayai sampai sekarang adalah bahwa Tuhan saya, Yesus Kristus itu baik. Masih memberi nafas dan segala berkat lainnya untuk saya yang berdosa ini.

Seharusnya agama dijadikan pembatas antara manusia dengan dosa, bukan menjadi pembatas manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

Advertisements