This post might be against my conscience. Just like the video above, this post contain some strong language. I don’t find criticizing certain person amusing. But I just can’t help it to criticize this guy, named Raditya Dika, since he didn’t have any hesitation to mock other people, too.

First of all, I’d like you to read my previous post entitled Premature Judgment. You can read my perspective towards mocking. I hate it so much when people make fun of others’ weaknesses, whether its physical appearances or even intelligence, for people always born with their own uniqueness and particular personal quality that may different from others. Make fun of others’ weaknesses doesn’t make them better than people who became the object of mocking itself.

Kayanya lebih enak pakai bahasa Indonesia buat nulis ini. Biar kalau Raditya Dika baca ini, dia ngerti (kalimat ini adalah bentuk satir untuk menghina Raditya yang seenak jidat menghina orang, just in case you don’t get the idea, yes I do know he’s graduated from an university in Australia which makes him able to speak English more fluently than me, i supposed). Tuh kan gw jadi ikut menghina lo juga dengan meragukan kemampuan komprehensi lo dalam membaca. Ah biar sama sinisnya kaya Raditya Dika di video diatas yang mengganggap dirinya superior dan berevolusi lebih cepat dibanding segenap umat manusia di bumi ini.

Okay, pembahasan tentang video ini dimulai dengan penghinaan Raditya pada beberapa anggota band. Tulisan ini akan berfokus pada analisis tentang penggunaan bahasa Raditya Dika dan relevansinya pada fakta dalam dunia nyata (karena objek leluconnya orang asli). Karena gw males ngetik nama Raditya Dika terus, maka mulai dari paragraf ini gw bakal mengganti Raditya Dika dengan pronomina Si Angkuh.

00:20 Si Angkuh ini mulai ngomong tentang SM*SH, boyband fenomenal ini emang lagi naik daun pada masa itu. Dan ya terus terang, gw juga agak jijik liat videoklipnya. Dan memang yang trend saat itu bukan hanya SM*SH sebagai sebuah band tapi juga celaan tentang penampilan mereka di video klip tersebut. Tapi Si Angkuh di sini malah protes tentang lirik SM*SH yang bilang “Kenapa hatiku cenat-cenut setiap ada kamu.” Pernahkah Si Angkuh ini nonton film Fight Club yang diangkat dari novel Chuck Palahniuk? Di salah satu dialog, narator, Edward Norton, membaca sebuah artikel yang ditulis seolah-olah dari sudut pandang pertama, oleh organ. “I am Jack’s medulla oblongata. Without me Jack could not regulate his heart rate or breathing.” Pernahkah Si Angkuh ini belajar tentang majas personifikasi di Sekolah Dasar? Majas yang mengumpamakan benda mati seolah-olah bersikap seperti manusia? Judging from his dorky, punchable face, I guess not, because he was to busy being bullied by his classmate. Ya gw sekali lagi menghina penampilan fisik Si Angkuh ini karena gw yakin dia juga ga mikir dua kali waktu menghina SM*SH dengan sebutan semi-laki-laki. Adil kan?

01:06 Di sini Si Angkuh mulai menunjukkan kalau dia tidak paham sepenuhnya tentang proses fotosintesis. Pelajaran yang seharusnya sudah diajari waktu kita kelas 5 SD. Menghina Hijau Daun dan band jazz lain bernama Chlorophyll yang kalau manggung bersama katanya bisa berfotosintesis menghasilkan oksigen. Gw bahkan harus nanya ke keponakan gw yang kelas 5 SD tentang proses fotosintesis. Katanya “Ga om, fotosintesis itu bisa terjadi kalau ada kombinasi antara klorofil, CO2 dan sinar matahari. Jadi kalo klorofil sama kloforil doang ga mungkin jadi oksigen.” (Ini kalimat yang dilebih-lebihkan, gw ga punya keponakan kelas 5 SD. Anggap aja ini petunjuk pemakaian bahasa yang dilebih-lebihkan dan disajikan seolah-olah fakta. Sekali lagi gw cuma memosisikan gw semirip Si Angkuh, dalam hal ini menulis blog dengan fakta yang tidak terlalu menarik dengan gaya bahasa berlebihan, seperti novel based on blognya itu).

03:11 Iklan shampoo pun bisa masuk dalam joke yang buang-buang waktu ini. Pada kalimat sebelumnya, Si Angkuh ini memperolok rambut Andhika Kangen Band. Dan ya, respon penonton cukup besar pada lelucon tersebut. Namun Si Angkuh sepertinya terlalu terbawa suasana, masih mabuk oleh tawa penonton pada lelucon tentang Andhika tersebut sehingga ia yang pada beberapa detik sebelumnya menyudahi perhatian berlebihnya pada rambut Andhika dan beralih pada Ariel Peterpan, kehilangan relevansi cerita. Kenapa sebelumnya Ariel yang mengetuk pintu malah dijawab “Andhika, jangan masuk dulu, Andhika!”. Terlihat kan, bagaimana sebenarnya ia tidak paham pada apa yang dibicarakannya, dan terlalu terbawa emosi dalam menghina orang sehingga lupa subjek ceritanya sendiri? Bagaimana bisa orang bisa lupa subjek cerita sendiri dalam waktu sekian detik? Dumb? No, I’d rather pity him for having brain-dementia than to call him a dumb.

03:22 “Iklan Indonesia ga ada yang bener.” Apa jadinya kalau Randy Rinaldi, creative director iklan  yang udah memenangkan berbagai penghargaan periklanan di Singapur, New York dan di Indonesia sendiri denger ini? Bakalan sakit kah Randy (sok kenal) ketika kerja kerasnya dalam menghasilkan iklan yang bagus sekaligus membawa iklan tersebut tembus ke kompetisi internasional dipatahkan dengan sebegitu mudahnya oleh generalisasi gegabah dari pemuda gagah nan penuh dengan ide-ide brilian yang satu ini? Menurut gw, kalo menghina tuh ya subjeknya agak dipersempit sedikit. Memukul rata semua iklan di Indonesia itu jelek sama aja dengan melabeli dahi sendiri dengan tulisan bodoh, maaf, maksud gw kapital B.O.D.O.H.

03:27 “Iklan yang paling aneh sejagat, yang ada hanya di Indonesia, ga ada di negara lain…Tori-tori chesse cracker.” Di sini lagi-lagi Si Angkuh menggunakan iklan sebagai referensi leluconnya. Sayangnya referensi yang dia tonton kurang banyak. Mungkin karena ia sudah terlalu fokus pada kelemahan iklan tersebut dan enggan memperluas perspektifnya dalam menilai iklan tersebut. Gw anggap lo semua udah nonton iklan Tori-tori, jadi ini cuma gw kasih yang versi Jepangnya.

Iklan Tori-tori tersebut sebenarnya disadur dari sebuah iklan di Jepang. Jadi ketika ia bilang “ga ada lagi di negara lain”, gw cuma bisa bilang dalam hati “really, you really don’t know a search engine called Google, do you?”

05:05 “Yang paling aneh tau ga lo apa?…Susan itu psikopat!” Terlihat ga kalo Si Angkuh ini daritadi selalu make kata “yang paling aneh”. Jika ditilik secara linguistik, “yang paling” itu dikategorikan sebagai kata superlative. Jadi ketika lo bilang “yang paling aneh” berarti udah ga ada lagi “yang lebih aneh”. Walaupun ya, dalam bertutur orang seringkali lupa tata bahasa yang baik dan benar, tapi setidaknya pemahaman tentang kata-kata superlative dan comparative tersebut seharusnya bisa diaplikasikan pada komunikasi verbal, bahkan dalam komunikasi satu arah sia-sia seperti yang dilakukan Si Angkuh tersebut. Sepertinya Si Angkuh ini punya masalah dalam berbagai bidang, entah itu biologi maupun linguistik. May God bless his soul (and mind, if he has it).

Yang ingin gw bilang di sini adalah lelucon ini tidak cerdas, sama sekali. Bayangkan kalau setiap orang yang dihina dalam lelucon ini hadir di tempat tersebut. Akankah Si Angkuh mampu berkata-kata, ditertawai, menertawai kelemahan orang lain dan menjadikannya bintang di bawah lampu sorot? Jelas tidak mungkin, ia kehabisan referensi, gagap membangun suasana. Ia butuh kelemahan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih kuat. Egois? Bukankah itu sifat dasar manusia? Yang membuat mereka lebih termotivasi dalam menjalani hidup? Tapi kalau sampai harus mengorbankan orang lain demi dianggap lucu oleh orang lain? Silahkan dipikirkan kata yang tepat untuk mendefinisikannya.

Mungkin sebagian dari kalian berpikir “Kalo lo menghina dia juga, apa bedanya lo ama dia?” Let me get this straight. Gw bukan menghina balik cuma ingin menjelaskan betapa bodohnya lelucon yang menggunakan kelemahan orang lain sebagai tameng atas ketidakmahirannya dalam membuat lelucon. Berapa banyak lagi orang yang harus dikorbankan (hatinya) dalam membuat sebuah lelucon? Sebenarnya video ini ada tiga bagian tapi gw udah capek buka-buka referensi menambal lelucon Si Angkuh sana-sini. Sebagai manusia, gw yakin dia bisa belajar sendiri. But please, Raditya Dika, if you read this post, don’t try to make denial statement. You mock the people in this video without second consideration. You treated those people like dirt, so don’t get angry if people treated you the same way.

Advertisements